Review buku Majapahit karya Herald van der Linde. Mengulas sejarah, kejayaan, intrik politik, perang, Gajah Mada, Hayam Wuruk, serta sisi kritisnya.
Bayangkan jika selama ini kita mengenal Majapahit hanya dari potongan-potongan cerita yang kita hafalkan di bangku sekolah.
Ada nama Hayam Wuruk. Ada Gajah Mada. Ada Sumpah Palapa. Lalu, ada satu kata besar yang selalu muncul: Nusantara.
Namun, bagaimana jika di balik kejayaan itu ternyata tersimpan cerita yang jauh lebih rumit?
Sebab sebuah kerajaan besar tidak mungkin hanya dibangun oleh kemenangan dan kejayaan. Di balik istana, ada perebutan kekuasaan. Di balik hubungan keluarga kerajaan, ada konflik dan pengkhianatan. Di balik ekspansi wilayah, ada peperangan. Dan di balik gemerlap pusat kerajaan, ada kehidupan masyarakat yang terus bergerak—berdagang, menjalankan agama, bekerja, dan bertahan hidup.
Majapahit, dengan demikian, bukan sekadar kisah tentang sebuah kerajaan besar yang pernah berdiri di Jawa. Ia adalah kisah tentang manusia dan ambisi mereka.
Kompleksitas sejarah itulah yang coba dihidupkan kembali oleh Herald van der Linde melalui bukunya Majapahit.
Dalam edisi bahasa Inggris, buku ini hadir dengan judul lengkap Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire, yang diterbitkan oleh Monsoon Books pada 2024.
Judulnya sendiri seolah sudah memberi petunjuk bahwa pembaca tidak hanya akan diajak melihat Majapahit dari sisi kejayaannya. Ada intrik, pengkhianatan, dan perang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kerajaan tersebut.
Setahun kemudian, pada 2025, buku ini hadir dalam bahasa Indonesia melalui Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Melalui buku ini, Majapahit terasa bukan lagi sebagai nama yang jauh di masa lalu. Sejarahnya menjadi lebih dekat—lebih manusiawi, lebih kompleks, sekaligus mengingatkan kita bahwa di balik sebuah imperium besar selalu ada cerita tentang kekuasaan, konflik, ambisi, dan manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri.
Ketika mendengar nama Majapahit, mungkin yang langsung terbayang adalah sebuah kerajaan besar dengan wilayah kekuasaan yang membentang luas di Asia Tenggara.
Namun, Herald van der Linde mengajak kita melihat Majapahit dari sudut yang berbeda.
Bukan hanya sebagai sebuah kerajaan.
Bukan hanya sebagai peta wilayah, nama raja, atau deretan tahun dalam buku sejarah.
Melainkan sebagai sebuah dunia yang hidup.
Di dalam dunia itu, kekuasaan tidak pernah benar-benar aman. Di balik kemegahan istana, ada ambisi yang saling berbenturan. Ada keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung, tetapi justru bisa berubah menjadi arena perebutan kekuasaan.
Ada pengkhianatan yang datang dari orang-orang terdekat.
Ada peperangan yang menentukan masa depan kerajaan.
Ada intrik politik yang membuat satu keputusan kecil bisa mengubah arah sejarah.
Dan tentu saja, ada manusia-manusia di balik semuanya.
Mereka bukan sekadar nama yang tercatat dalam prasasti. Mereka memiliki ambisi, ketakutan, kepentingan, kesetiaan, bahkan kelemahan.
Di situlah kekuatan pendekatan Van der Linde terasa.
Ia tidak sekadar berkata, “Majapahit pernah berjaya.”
Ia justru mengajak kita bertanya:
Bagaimana sebuah kejayaan itu dibangun?
Siapa yang harus berkorban?
Siapa yang berkhianat?
Siapa yang menang?
Dan siapa yang akhirnya harus kehilangan segalanya?
Karena itu, membaca buku ini terasa berbeda dari membaca buku sejarah konvensional.
Alurnya membawa kita seolah sedang mengikuti sebuah novel sejarah—dengan konflik yang terus berkembang, karakter yang saling berhadapan, dan ketegangan politik yang membuat kita ingin terus mengetahui apa yang terjadi berikutnya.
Majapahit akhirnya tidak terasa seperti masa lalu yang mati.
Ia terasa seperti sebuah kisah tentang manusia, yang kebetulan berlangsung ratusan tahun yang lalu.
Dan mungkin justru karena itulah, sejarah Majapahit terasa jauh lebih dekat dengan kita.
Sinopsis Buku Majapahit karya Herald van der Linde
Bayangkan kita membuka halaman pertama buku Majapahit, lalu perlahan mundur jauh ke belakang—ke masa ketika nama Majapahit bahkan belum muncul dalam sejarah.
Untuk memahami bagaimana sebuah kerajaan besar bisa lahir, Herald van der Linde tidak langsung membawa kita ke masa kejayaan Majapahit.
Ia mengajak kita menelusuri terlebih dahulu jejak kerajaan-kerajaan yang datang sebelumnya.
Kita dibawa ke Singasari, menyusuri pergulatan politik Jawa, dan berhadapan dengan sosok seperti Ken Arok—tokoh yang kisah hidupnya sendiri sudah dipenuhi ambisi, perebutan kekuasaan, dan perubahan besar dalam sejarah politik Jawa.
Dari rangkaian peristiwa itulah, perlahan terbentuk jalan menuju lahirnya Majapahit.
Dan ketika Majapahit akhirnya berdiri, perjalanan justru baru dimulai.
Kerajaan ini kemudian tumbuh menjadi salah satu kekuatan terbesar di kawasan. Jawa Timur menjadi pusat kekuasaan, sementara pengaruh politik dan ekonominya menjangkau wilayah yang luas.
Majapahit bukan hanya kekuatan politik.
Ia juga berkembang sebagai kekuatan agraris, ekonomi, dan maritim. Perdagangan bergerak, pelabuhan menjadi penting, dan hubungan dengan berbagai wilayah di Nusantara serta Asia Tenggara ikut membentuk wajah kerajaan ini.
Namun, ada satu hal yang membuat kisah Majapahit terasa jauh dari gambaran sebuah kerajaan yang selalu berjaya dan bersatu.
Di balik kejayaan, selalu ada konflik.
Di dalam istana, kekuasaan diperebutkan.
Di antara keluarga kerajaan, hubungan darah tidak selalu berarti kesetiaan.
Ada pemberontakan yang mengancam stabilitas kerajaan. Ada pembunuhan dan pengkhianatan yang mengubah arah sejarah. Dan ada peperangan yang menentukan siapa yang akan duduk di singgasana—serta siapa yang harus kehilangan kekuasaan.
Semakin besar Majapahit tumbuh, semakin besar pula taruhan yang harus dimainkan.
Sebab mempertahankan sebuah kerajaan besar ternyata tidak kalah sulit dibandingkan membangunnya.
Itulah mengapa judul lengkap edisi Inggris buku ini terasa begitu tepat: Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire.
Karena Majapahit yang ditampilkan Van der Linde bukanlah kerajaan ideal yang selalu berdiri dalam persatuan.
Ia adalah sebuah imperium besar dengan segala paradoksnya.
Di satu sisi, ada kejayaan, kekayaan, perdagangan, dan pengaruh yang luas.
Di sisi lain, ada ambisi, konflik keluarga, pengkhianatan, pemberontakan, dan perang.
Dan mungkin, justru di situlah kisah Majapahit menjadi begitu menarik.
Sebab di balik sebuah kerajaan besar, selalu ada manusia yang berjuang untuk mendapatkan, mempertahankan, atau merebut kembali kekuasaan.
Daya Tarik Utama Buku
Bagaimana jika sejarah Majapahit ternyata lebih mirip drama politik daripada pelajaran sejarah di sekolah?
Bayangkan sebuah dunia yang dipenuhi perebutan takhta, aliansi yang rapuh, ambisi keluarga kerajaan, pengkhianatan, peperangan, dan manuver politik.
Bukan Westeros.
Ini adalah Majapahit.
Melalui Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire, Herald van der Linde menghadirkan sejarah Nusantara dengan pendekatan yang terasa segar dan jauh dari kesan buku akademik yang kaku.
Buku ini mengemas sejarah salah satu kerajaan terbesar di Nusantara dalam gaya pop history yang mengalir, dramatis, dan mudah diikuti.
Bagi Anda yang menganggap sejarah kuno membosankan, buku ini mungkin akan membuat pandangan itu berubah.
Karena di dalamnya, sejarah terasa seperti drama dinasti ala Game of Thrones.
Ada perebutan kekuasaan.
Ada aliansi yang bisa berubah dalam sekejap.
Ada tokoh yang harus memilih antara kesetiaan dan kepentingan.
Dan ada pengkhianatan yang mampu mengubah arah sebuah kerajaan.
Salah satu kisah paling menarik adalah perjalanan Raden Wijaya.
Ketika menghadapi Jayakatwang, Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan sebagai sekutu untuk menjatuhkan musuhnya.
Namun setelah tujuannya tercapai, situasinya berubah.
Pasukan Mongol yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai alat untuk merebut kembali kekuasaan justru harus diusir dari Jawa.
Sebuah manuver yang memperlihatkan bahwa politik pada masa itu tidak selalu tentang siapa kawan dan siapa lawan.
Kadang, sekutu hari ini bisa menjadi musuh esok hari.
Buku ini juga membawa kita ke masa kejayaan Majapahit melalui hubungan antara Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Gayatri.
Di sini, Van der Linde menawarkan perspektif yang menarik.
Kejayaan Majapahit tidak semata-mata lahir dari satu sosok “pahlawan besar”.
Di balik ekspansi kerajaan terdapat jaringan kekuasaan, strategi keluarga, hubungan politik, dan peran penting perempuan di lingkungan istana.
Dengan kata lain, sejarah Majapahit bukanlah cerita tentang satu orang yang membangun sebuah imperium.
Ia adalah cerita tentang sebuah jaringan manusia dan kekuasaan yang saling terhubung.
Menariknya lagi, buku ini membantu pembaca memahami konsep mandala, sebuah konsep penting untuk melihat bagaimana kekuasaan Majapahit sebenarnya bekerja.
Majapahit tidak bisa begitu saja dipahami sebagai negara-bangsa dengan garis batas wilayah yang tegas seperti Indonesia modern.
Kekuasaan berpusat pada raja.
Semakin jauh dari pusat kekuasaan, pengaruh tersebut semakin berkurang. Daerah-daerah di luar pusat bisa memiliki tingkat kemandirian yang berbeda, tetapi tetap berada dalam jaringan pengaruh Majapahit.
Perspektif ini membuat kita melihat Majapahit dengan cara yang berbeda.
Bukan sekadar kerajaan yang “menguasai Nusantara”, tetapi sebuah jaringan kekuasaan yang kompleks, dibangun melalui politik, perdagangan, hubungan keluarga, diplomasi, dan strategi.
Dan mungkin inilah daya tarik terbesar buku Van der Linde.
Ia tidak hanya mengajak kita bertanya, “Seberapa luas Majapahit?”
Tetapi juga:
Bagaimana sebuah kekuasaan sebesar itu dibangun?
Siapa yang berada di baliknya?
Strategi apa yang digunakan?
Dan berapa banyak konflik yang harus dilalui untuk mempertahankan kejayaannya?
Jika Anda ingin membaca sejarah Majapahit dengan cara yang lebih hidup, dramatis, dan mudah dicerna, Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire layak masuk dalam daftar bacaan Anda.
Karena sejarah Nusantara ternyata tidak pernah sesederhana yang kita hafalkan di buku pelajaran.
Ken Arok, Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Tokoh-Tokoh Penting
Kalau sejarah Majapahit hanya tentang Hayam Wuruk dan Gajah Mada, mungkin ceritanya akan terasa sederhana.
Seorang raja besar.
Seorang mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa.
Lalu sebuah kerajaan yang mencapai puncak kejayaan.
Namun, Herald van der Linde menunjukkan bahwa cerita Majapahit jauh lebih panjang dari itu.
Sebelum nama Majapahit menjadi besar, ada tokoh-tokoh yang lebih dahulu mewarnai sejarah politik Jawa.
Salah satunya adalah Ken Arok.
Kisahnya membawa kita kembali ke masa Singasari, ketika perebutan kekuasaan, ambisi, dan pergantian dinasti mulai membentuk jalur panjang yang kelak mengarah pada lahirnya Majapahit.
Kemudian, sejarah membawa kita kepada Raden Wijaya.
Di tengah kekacauan politik dan runtuhnya kekuasaan sebelumnya, muncul seorang tokoh yang melihat peluang di tengah krisis.
Dari tangan Raden Wijaya, Majapahit akhirnya berdiri.
Tetapi berdirinya sebuah kerajaan ternyata bukan akhir cerita.
Justru dari sinilah perjalanan panjang Majapahit dimulai.
Beberapa generasi kemudian, muncul nama-nama yang begitu familiar dalam sejarah Indonesia.
Hayam Wuruk.
Gajah Mada.
Dua nama yang sering dianggap sebagai simbol kejayaan Majapahit.
Namun, menariknya, buku ini tidak membuat sejarah Majapahit seolah-olah berputar hanya di sekitar mereka.
Karena sebuah kerajaan sebesar Majapahit tidak mungkin lahir dari satu tokoh.
Di belakangnya ada kerajaan-kerajaan yang lebih dahulu berdiri.
Ada dinasti yang membangun fondasi kekuasaan.
Ada konflik dan pergantian kekuasaan yang membuka jalan bagi munculnya pemimpin baru.
Dan ada generasi demi generasi yang meneruskan, memperluas, sekaligus mempertahankan kekuasaan tersebut.
Dengan melihat rangkaian itu, kita mulai memahami satu hal penting:
Majapahit tidak muncul begitu saja.
Ia bukan sebuah kerajaan yang tiba-tiba berdiri lalu langsung menjadi imperium besar.
Majapahit adalah hasil dari proses sejarah yang panjang—dibentuk oleh ambisi, konflik, dinasti, peperangan, dan keputusan para tokoh yang hidup jauh sebelum namanya menjadi bagian dari buku pelajaran kita.
Dan mungkin, di situlah menariknya membaca sejarah.
Karena di balik satu nama besar seperti Majapahit, ternyata ada begitu banyak cerita yang harus terjadi terlebih dahulu.
Majapahit: Dari Kejayaan Masa Lalu hingga Cermin Politik Indonesia
Bayangkan sebuah kerajaan yang telah runtuh berabad-abad lalu, tetapi namanya masih terus hidup di tengah kehidupan Indonesia hari ini.
Majapahit bukan sekadar nama yang kita temukan di buku-buku sejarah. Warisannya terasa dalam berbagai simbol yang begitu dekat dengan identitas bangsa. Gagasan tentang Nusantara, nama yang kini digunakan untuk ibu kota negara yang baru, sosok Gajah Mada, hingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”—semuanya membawa kita kembali pada ingatan tentang Majapahit.
Seolah-olah, setiap kali Indonesia berbicara tentang persatuan, keberagaman, dan kebesaran bangsa, kita kembali menoleh ke masa itu.
Namun, ada pertanyaan menarik: benarkah Majapahit hanya sebuah kisah tentang kejayaan?
Di sinilah buku ini menjadi semakin menarik.
Selama ini, Majapahit sering hadir dalam imajinasi kita sebagai kerajaan besar yang berhasil menyatukan wilayah Nusantara. Kisahnya kerap dibungkus dengan kejayaan, kekuatan, dan kebesaran. Tetapi jika kita melihat lebih dekat, sejarahnya ternyata jauh lebih rumit.
Di balik gemerlap kejayaan itu, ada perebutan kekuasaan, konflik suksesi, kekerasan, ketidakadilan, dan ambisi politik.
Dengan kata lain, Majapahit bukanlah kisah tentang masa lalu yang sempurna.
Justru karena itulah sejarahnya terasa begitu relevan.
Buku ini mengajak pembaca melihat Majapahit bukan hanya sebagai kerajaan yang pernah berjaya, tetapi juga sebagai sebuah ruang untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja. Bagaimana ambisi dapat membentuk sejarah. Bagaimana perebutan pengaruh bisa menentukan siapa yang berkuasa. Dan bagaimana narasi tentang kejayaan masa lalu dapat terus digunakan untuk membangun identitas bangsa di masa kini.
Pada akhirnya, ketika kita membaca tentang konflik politik di Majapahit, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang terasa familiar.
Sebab, meskipun zamannya berbeda, politik tetap berbicara tentang manusia, kekuasaan, kepentingan, dan bagaimana seseorang berusaha mempertahankan pengaruhnya.
Itulah yang membuat kisah Majapahit tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.
Ia terus hidup dalam ingatan kita—dan mungkin, tanpa kita sadari, juga membantu kita memahami Indonesia hari ini.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Sejarah yang Mengalir, Bukan Membebani
Bukan Hanya Tentang Raja dan Kekuasaan
Kekurangan atau kelemahan
Apakah Buku Majapahit Layak Dibaca?
- pembaca yang tertarik pada sejarah Indonesia;
- penggemar Kerajaan Majapahit;
- pembaca yang ingin mengenal Gajah Mada dan Hayam Wuruk lebih jauh;
- mahasiswa dan pelajar yang ingin mendapatkan gambaran umum tentang Majapahit;
- pembaca yang menyukai sejarah dengan konflik politik;
- pembaca yang merasa buku sejarah akademis terlalu berat.
Kekurangan / Catatan Kritis Pembaca
Linimasa Kekuasaan yang Disorot
- Mulai Abad ke-13 (Era Ken Arok - Singasari): Lahirnya wangsa Rajasa. Menyoroti kudeta berdarah dan mobilitas sosial luar biasa dari seorang penjahat jalanan menjadi pemegang takhta tertinggi di Jawa.
- 1293 (Berdirinya Majapahit): Raden Wijaya secara strategis memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menyingkirkan musuh-musuh internalnya, lalu berbalik mengusir Mongol dan mendirikan ibu kota baru di hutan Tarik.
- Abad ke-14 (Masa Keemasan): Era kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Periode di mana Mpu Prapanca menyusun naskah Desawarnana, mengabadikan detail kehidupan istana dan tata kelola sosial yang sangat maju.
- Abad ke-15 - Abad ke-16 (Senjakala & Reinkarnasi di Bali): Hegemoni Majapahit perlahan pudar di Pulau Jawa seiring transisi agama dan kekuatan dagang, namun warisan Hindu, tradisi sastra, dan peradabannya diselamatkan dan terus mekar di Bali.
Bagaimana jika kisah Majapahit ternyata bukan sekadar cerita tentang kejayaan sebuah kerajaan di masa lalu?
Lewat Majapahit, Herald van der Linde menghadirkan sejarah kerajaan Jawa ini dengan cara yang lebih hidup, dekat, dan relevan bagi pembaca masa kini. Alih-alih hanya menyajikan rangkaian nama tokoh, peperangan, dan pergantian kekuasaan, buku ini mengajak kita melihat Majapahit sebagai sebuah dunia yang penuh ambisi, kekuasaan, konflik, dan kepentingan politik.
Yang membuatnya semakin menarik, kisah tersebut tidak berhenti pada masa lalu. Pembaca perlahan diajak menyadari bahwa pola politik yang pernah terjadi berabad-abad lalu ternyata memiliki gema yang tidak asing dengan realitas politik masa kini.
Di sinilah kekuatan Majapahit. Buku ini bukan hanya bercerita tentang bagaimana sebuah kerajaan tumbuh menjadi salah satu kekuatan penting di Asia Tenggara, tetapi juga tentang bagaimana sejarah kemudian dibentuk, diwariskan, ditafsirkan, dan bahkan digunakan untuk membangun gagasan tentang identitas serta kekuasaan.
Namun, buku ini sebaiknya dinikmati sebagai sejarah populer yang ditopang riset, bukan sebagai rekonstruksi akademik yang sepenuhnya ketat. Karena itu, pembaca tetap perlu kritis dalam membedakan antara fakta sejarah, interpretasi, dan dramatisasi yang digunakan untuk membuat narasi terasa lebih hidup.
Bagi pembaca yang menyukai analisis sejarah dan literatur, atau sekadar ingin menemukan bacaan naratif yang mampu memperluas wawasan tentang masa lalu Nusantara, Majapahit menawarkan pintu masuk yang menarik.
Sebab, daya tarik Majapahit tidak hanya terletak pada kenyataan bahwa kerajaan ini pernah menjadi sebuah imperium besar. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana ingatan tentang Majapahit terus bertahan hingga hari ini.
Gagasan tentang Nusantara, simbol kebudayaan, identitas bangsa, hingga politik Indonesia modern masih bersinggungan dengan warisan dan imajinasi tentang Majapahit.
Pada akhirnya, membaca buku ini membuat kita melihat sejarah dengan cara yang berbeda: masa lalu ternyata tidak benar-benar berlalu. Ia terus hidup dalam cara kita memahami kekuasaan, membangun identitas, dan melihat masa kini.
| Judul | Rating | Cerita & Ilustrasi | Tebal | Berat | Format | Tanggal Terbit | Dimensi | ISBN | Penerbit |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| JudulMajapahit | Rating4.5 | Cerita & IlustrasiHerald van der Linde | Tebal464 halaman | Berat0.500Gr | FormatSoft cover | Tanggal Terbit30 Oktober 2025 | Dimensi20 cm x 13.5 cm | ISBN9786231344816 | PenerbitKepustakaan Populer Gramedia |
Pesan dari
KATALOG BUKU
Buku pilhan lainnya:
Bingung ingin baca review buku apalagi? Silakan cari disini.
Kamu juga bisa temukan buku lain nya di Katalog Kami







