Review Novel Saga Dari Samudera – Ratih Kumala | Kisah Laut & Ingatan
Review novel Saga Dari Samudera karya Ratih Kumala. Cerita puitis tentang laut, sejarah, dan ingatan manusia yang terikat pada masa lalu.
Ada kisah yang tidak sekadar dibaca, melainkan untuk dihayati sepenuh hati—dimulai perlahan, lalu menghantam perasaan secara mendadak. "Saga Dari Samudera" karya Ratih Kumala merupakan perwujudannya. Novel ini mengajak para pembaca untuk menjelajahi samudra, riwayat masa lampau, serta kenangan insan yang ringkih, namun kuat demi bertahan hidup.
Ditulis oleh Ratih Kumala, "Saga dari Samudera" adalah roman sejarah dengan genre laga yang berpusat di Jawa pada era abad ke-15. Narasi ini berkisah tentang Jaka Samudra yang diselamatkan oleh Nyai Ageng Pinatih di lautan, kemudian berkembang jadi sosok penting dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Sinopsis singkat
Kisah dalam Saga dari Samudra berlatar di pesisir utara Jawa, khususnya Gresik, pada abad ke-15. Kala itu, Gresik bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan pusat niaga internasional yang vital bagi Majapahit. Penulis melukiskan suasana pelabuhan dengan apik, membangkitkan kegemilangan bahari Nusantara di masa lalu.
Saga Dari Samudra berkisah tentang orang-orang yang hidupnya menyatu dengan laut—bukan cuma sebagai tempat, tapi juga perasaan. Laut jadi saksi bisu perjalanan, kehilangan, kasih, dan duka yang diwariskan turun-temurun dari leluhur.
Lewat alur yang berlapis, Ratih Kumala berkisah tentang masa lalu yang tak pernah selesai, tentang rahasia yang tersembunyi dalam diam, serta tentang usaha manusia menantang sejarah diri mereka masing-masing.
Karya ini menampilkan perjalanan Jaka Samudra mencari jati dirinya di tengah dunia persilatan sederhana, di mana keberanian dihargai dan keyakinan diuji oleh kepercayaan lama. Alur mengalir dengan gaya bertutur yang akrab menyapa pembaca "Kisanak", menciptakan ikatan emosional sambil menelusuri kehidupan bahari dan daratan Jawa kuno.
Novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala, terbit Mei 2023 oleh Gramedia Pustaka Utama, jadi penanda penting dalam sastra modern Indonesia, khususnya fiksi sejarah. Setelah sukses dengan Gadis Kretek dan Tabula Rasa, Ratih Kumala beralih tema dari realisme sejarah abad ke-20 ke epos maritim abad ke-15 yang kaya mistis.
Kisah utama Saga Samudra menyoroti alur hidup Jaka Samudra, yang kelak dikenal sebagai Raden Paku atau Sunan Giri, seorang figur sentral di antara Wali Songo. Pembentukan karakter Jaka Samudra dibuka dengan nestapa seorang ibu yang terpaksa menghanyutkan putranya ke laut demi keselamatan sang bayi.
Ditemukannya bayi itu oleh para pelaut di bawah komando Nyai Ageng Pinatih menjadi titik mula penelusuran jati diri yang merupakan tema sentral novel ini. Jaka Samudra tumbuh besar dibayangi pertanyaan tentang siapa dirinya sebenarnya, terlebih karena ia kerap diejek teman-temannya yang meragukan statusnya sebagai anak angkat.
Evolusi Jaka Samudra dari pemuda yang berkeinginan mengikuti jejak ibu angkatnya menjadi seorang pelaut, lalu berganti haluan menjadi penyebar agama Islam usai berguru pada Sunan Ampel, digambarkan dengan mulus. Ratih Kumala sukses menampilkan sisi manusiawi tokoh yang dianggap keramat. Pembaca bisa merasakan kebimbangan, kegelisahan, serta pendewasaan spiritual Jaka Samudra yang tak instan, melainkan lewat serangkaian ujian lahir batin. Relasi antara Jaka Samudra dan Sunan Ampel merefleksikan metode transfer ilmu dalam sistem pendidikan pesantren tempo dulu di Jawa, di mana nilai-nilai Islam dipadukan dengan kearifan lokal secara selaras.
Profil Penulis
Ratih Kumala telah menciptakan beberapa karya seperti Tabula Rasa, Genesis, Larutan Senja, Kronik Betawi, dan Gadis Kretek, yang berhasil diadaptasi menjadi serial film. Karya-karya Ratih Kumala umumnya sudah meraih berbagai penghargaan di bidang fiksi dan sastra. Sebagai contoh, novel Gadis Kretek terpilih sebagai salah satu dari sepuluh karya unggulan dalam penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2012, dan telah diterjemahkan ke dalam tiga bahasa: Inggris, Mesir, dan Jerman.
Dalam sebuah kanal YouTube, Ratih pernah mengungkapkan bahwa ia awalnya menulis hanya untuk kepuasan pribadinya. Pada tahap awal karier menulisnya, ia sering merasakan ketidaknyamanan, namun saat karyanya mulai dibaca oleh orang banyak, ia menyadari bahwa tulisannya dapat memberikan makna. Saat ini, ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk para pembaca yang menginginkan karya-karyanya.
Tentang Saga Dari Samudera
Gaya penulisan Ratih Kumala terlihat tenang namun mampu membangkitkan emosi, hal ini sangat terasa dalam karyanya yang berjudul Saga Dari Samudera. Ia menggunakan kalimat-kalimat yang tidak berlebihan, tetapi selalu mengandung makna yang mendalam. Penulis memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan, bukan sekadar mengikuti alur cerita.
Dalam novel Saga dari Samudra, gaya bercerita Ratih Kumala berjalan dengan mulus, seperti aliran air, dengan narasi yang menarik, seolah-olah pembaca menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung, yang menimbulkan ikatan emosional yang kuat.
Alur cerita berkembang dengan perlahan, tetapi di sinilah terletak daya tariknya. Novel ini lebih menekankan pada kedalaman perasaan dan pemahaman mengenai sifat manusia, ketimbang pada sensasi semata.
Jalan cerita berlangsung dengan baik, diselingi dengan kembali ke kenangan masa lalu tanpa mengganggu alur, dan ditutup dengan cemerlang saat akhirnya kembali ke titik awal, memberikan dua perspektif dalam penafsiran. Penulis menyapa pembaca menggunakan istilah "Kisanak" yang khas dalam tradisi hikayat, membuat pembaca merasa terlibat dalam petualangan Jaka Samudra.
Bahasa yang digunakan cenderung puitis, namun tetap sederhana, menjembatani antara unsur sejarah dan aksi dengan seimbang sesuai konteks zaman ke-15. Kemampuan penulis dalam bercerita bisa menyentuh perasaan, terutama di bagian-bagian penting, meskipun ada beberapa aspek dalam hidup karakter yang terasa tergesa-gesa.
Namun, ada ketidakkonsistenan dalam ejaan seperti "Magrib" yang berbeda dengan "Maghrib", kesalahan ketik yang tersebar, pengulangan kata tanpa tanda baca, serta imbuhan yang hilang huruf, yang berpengaruh terhadap kelancaran bacaan. Walaupun keseluruhan gaya masih menarik seperti karya sebelumnya, Gadis Kretek, pelaksanaan nya di sini terasa kurang bersemangat.
Tema Besar: Ingatan, Sejarah, dan Warisan Luka
Saga Dari Samudera mengisahkan tentang kenangan yang diturunkan, mengenai bagaimana sejarah—baik individu maupun kelompok—mempengaruhi cara orang mencintai, mengalami kehilangan, dan bertahan hidup.
Buku ini juga mengangkat tema tentang sejarah dan identitas, tanpa terkesan menggurui. Segalanya terasa alami, menyatu dengan kehidupan karakter-karakternya.
Karya Ratih Kumala yang berjudul Saga dari Samudera membahas tema utama mengenai kekonsistenan iman dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara pada abad ke-15. Hal ini dapat dilihat melalui cerita Jaka Samudra yang ditemukan di tengah lautan dan tumbuh besar di bawah bimbingan Nyai Ageng Pinatih.
Akurasi Sejarah Dalam Cerita
Kisah epik Samudra sangat erat kaitannya dengan catatan sejarah tentang Wali Songo. Novel ini secara khusus mengacu pada buku Sejarah Perjuangan dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri sebagai referensi utama. Sang penulis melakukan beragam modifikasi termasuk memperluas, memodifikasi, dan menyesuaikan fakta historis supaya menjadi sebuah narasi fiktif yang memikat.
Dengan latar belakang kehidupan Jawa abad ke-15 yang menggambarkan kehidupan sederhana, persilatan, dan dinamika sosial sebelum kolonialisme, novel Ratih Kumala dari Samudra, Novel Saga, menunjukkan tingkat keakuratan sejarah yang tinggi melalui fiksi.
Tokoh-tokoh dan tempat dalam buku ini merupakan representasi historis yang akurat dari orang-orang nyata, termasuk Sunan Giri (Raden Paku/Jaka Samudra), Nyai Ageng Pinatih sebagai syahbandar Gresik, dan lokasi seperti Gresik, Ampel, dan Blambangan, yang semuanya sesuai dengan catatan sejarah Islamisasi Nusantara. Menggambarkan masa akhir Majapahit sebelum keruntuhannya sekitar tahun 1527, novel ini mengintegrasikan unsur-unsur cerita Wali Songo, termasuk ritual kapitayan (keyakinan kuno Jawa), doa menghadap barat laut, dan senjata tradisional (Taksa, Sanacaka, Wajendra, Gandewa, Bahasyim).
Ratih Kumala memakai kekuatan cerita fiksi untuk membuat sejarah terasa hidup, termasuk teka-teki tentang siapa sebenarnya Jaka Samudra (apakah ia dihanyutkan Dewi Sekardadu atau sengaja ditinggalkan tentara Blambangan). Ia tetap menjaga pesan penting tentang bagaimana Islam menyebar dengan damai dan sikap kritis terhadap orang yang mudah mengafirkan orang lain. Kita seperti bisa merasakan bagaimana kehidupan di laut, perdagangan ke Bali, serta pertentangan antara keyakinan baru dan lama, meski ada bumbu-bumbu magis dari kisah lama untuk membuat cerita pertempuran jadi lebih seru.
Contohnya, adegan-adegan laga di novel ini adalah hasil imajinasi yang dikembangkan dari catatan tentang beratnya perjuangan para penyebar agama di wilayah yang masih kuat dengan kepercayaan lama. Ratih Kumala pandai mengisi celah-celah dalam sejarah dengan daya khayal, tapi tetap menghargai fakta-fakta sejarah yang sudah ada. Cara intertekstual seperti ini sangat bermanfaat untuk pendidikan, karena membantu siswa atau pembaca muda belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik lewat karya sastra.
Karakter yang Manusiawi dan Rentan
Dalam karya sastra ini, para tokoh dihadirkan dengan sifat-sifat yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak sempurna, seringkali bimbang, dan memikul beban masalahnya masing-masing. Pembaca diajak untuk lebih mengerti daripada menghakimi mereka.
Ratih Kumala membiarkan tokoh-tokohnya merasakan jatuh bangun, tak bersuara, dan dilanda kebingungan—justru inilah yang membuat mereka terasa begitu nyata.
Tokoh utama dalam Saga dari Samudera karya Ratih Kumala adalah Jaka Samudra (Raden Paku/Sunan Giri) dan Nyai Ageng Pinatih, yang menjadi inti dari kisah tentang menemukan diri sendiri dan menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-15.
Tokoh Utama
Jaka Samudra, yang juga dikenal sebagai Raden Paku atau Sunan Giri, adalah seorang bayi yang ditemukan terapung di laut dalam sebuah peti. Ia kemudian diasuh oleh Nyai Ageng Pinatih. Setelah beranjak dewasa, timbul rasa ingin tahu yang besar tentang asal-usulnya, yang mendorongnya untuk menjelajahi berbagai tempat demi mencari kebenaran, dan akhirnya menjadi figur sentral dalam catatan sejarah Islam.
Nyai Ageng Pinatih sendiri adalah seorang Syahbandar di Gresik, seorang perempuan yang sangat kuat. Beliau adalah yang menemukan serta membesarkan Jaka Samudra. Beliau juga memimpin aktivitas perdagangan ke Bali, serta menghadapi berbagai tantangan dengan keberanian serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Tokoh Pendukung
Dewi Sekardadu, ibunda Jaka Samudra sekaligus istri dari Syekh Maulana Ishak, terpaksa menghanyutkan putranya ke laut demi menghindari kejaran penguasa yang dengki.
Syekh Maulana Ishak, ayahanda Jaka Samudra, seorang tokoh penyebar agama Islam yang memilih mengungsi ke Pasai akibat perselisihan, juga dikenal mahir dalam meracik berbagai macam obat.
Nakhoda Sobir, nakhoda kapal Nyai Ageng, menemukan Jaka Samudra kecil dan setia menemani perjalanannya dalam mencari jati diri.
Sarikem, seorang wanita lugu, memainkan peran krusial dalam mengubah jalan hidup Jaka Samudra secara signifikan.
Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang) serta Qasim (Sunan Drajat), keduanya merupakan putra dari Sunan Ampel, adalah sahabat karib Jaka Samudra.
Wajendra, putra dari Aryo Rekso, menyimpan dendam terhadap Nyai Ageng dan Jaka Samudra, sehingga kerap memicu berbagai permasalahan.
Taksa, seorang mantan perampok yang telah insaf, kemudian menjadi pengawal setia Jaka Samudra hingga rela mengorbankan nyawanya.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Kelebihan:
Bahasa puitis dan atmosferik
Tema laut dan ingatan dieksekusi dengan kuat
Emosi terasa halus namun dalam
Cocok untuk pembaca yang menyukai sastra reflektif
Kekurangan:
Alur cenderung lambat
Tidak cocok bagi pembaca yang mencari cerita penuh aksi
Kesimpulan: Novel yang Perlu Dibaca dengan Perasaan
Sebuah buku seperti Saga Dari Samudera sebaiknya tidak disantap dengan cepat. Karya ini lebih cocok dinikmati secara perlahan, seperti saat kita duduk di tepi pantai, mendengarkan cerita-cerita kuno yang akhirnya berani diungkapkan.
Bagi pembaca yang menggemari novel dengan kedalaman perasaan, simbolisme yang kuat, dan gaya penulisan yang memikat, karya Ratih Kumala ini sangat layak masuk ke dalam daftar bacaan mereka.
Novel Saga dari Samudera karya Ratih Kumala adalah kontribusi penting dalam upaya mendekolonisasi narasi sejarah Indonesia. Dengan menghadirkan tokoh lokal seperti Nyai Ageng Pinatih dan Sunan Giri dalam wujud yang lebih memasyarakat dan artistik, Ratih berhasil menjembatani jurang antara sejarah yang baku dan daya imajinasi masyarakat yang hidup.
Walaupun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam penyuntingan, novel ini sungguh bermanfaat untuk dibaca, khususnya bagi siapa saja yang ingin menggali lebih dalam tentang fondasi spiritual dan kegemilangan bahari Nusantara. Lewat narasi "Kisanak" si pencerita, Ratih Kumala mengajak kita untuk menyadari bahwa sejarah bukanlah sekadar daftar tahun yang dihafalkan, tetapi juga serangkaian cerita tentang manusia yang penuh keberanian, kasih sayang, dan rancangan agung dari Tuhan. Dengan rencana menerbitkan karya-karya anyar seperti Koloni di waktu mendatang, Ratih Kumala semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu tokoh sentral dalam membentuk jati diri sastra Indonesia modern yang berlandaskan tradisi kuat namun tetap berpikiran maju.
FAQ – Review Novel Saga Dari Samudera
Q: Siapa penulis novel Saga Dari Samudera?
A: Novel ini ditulis oleh Ratih Kumala, penulis Indonesia yang dikenal dengan karya-karya sastra bernuansa reflektif.
Q: Genre novel Saga Dari Samudera apa?
A: Sastra fiksi dengan pendekatan psikologis dan reflektif.
Q: Apakah novel ini cocok untuk pembaca remaja?
A: Lebih cocok untuk pembaca dewasa yang menyukai cerita mendalam dan simbolik.
Saga Dari Samudera – Ratih Kumala Kisah tentang laut, ingatan, dan luka yang diwariskan diam-diam. Novel puitis yang mengajak pembaca menyelami sejarah, kehilangan, dan manusia yang tak pernah benar-benar lepas dari masa lalu.
Judul
Rating
Cerita & Ilustrasi
Tebal
Berat
Format
Tanggal Terbit
Dimensi
ISBN
Penerbit
JudulSaga Dari Samudera
Rating4.8
Cerita & IlustrasiRatih Kumala
Tebal202 halaman
Berat0.40 Kg
FormatSoft cover
Tanggal Terbit27 Mei 2023
Dimensi20 cm x 13.5 cm
ISBN9786020670966
PenerbitGramedia Pustaka Utama
Anda tertarik dengan buku ini?
Dapatkan buku ini di Marketplace maupun di Gramedia.com
Posting Komentar
0 Komentar