Review buku Becoming PowerHuman karya Tyo Guritno tentang cara manusia tetap berdaya, relevan, dan bijak menghadapi era AI yang terus berkembang.
Di tengah perbincangan hangat tentang Artificial Intelligence (AI), yang kerap kali diwarnai kekhawatiran—tentang potensi penggantian pekerjaan dan ketertinggalan—hadirlah buku "Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI" yang menawarkan perspektif lebih damai serta masuk akal. Tyo Guritno tidak menganjurkan pembaca untuk menentang kemajuan teknologi, namun mengajak mereka untuk hidup berdampingan dan maju bersama AI.
Perkembangan peradaban manusia kini mencapai fase krusial dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang merambah berbagai lini kehidupan, mulai dari peningkatan kinerja industri hingga ranah pemikiran paling personal. Di tengah kondisi yang berubah secara dinamis ini, buku karya Tyo Guritno berjudul Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI hadir bukan sekadar sebagai bahan bacaan pengembangan diri, tetapi juga sebagai panduan penting yang berupaya memaknai ulang eksistensi manusia di tengah riuhnya algoritma.
"Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI" karya Tyo Guritno, terbitan Bentang Pustaka pada Oktober 2025, adalah buku yang membangkitkan semangat. Di dalamnya, dikupas bagaimana manusia dapat beradaptasi dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI). Buku ini menawarkan perspektif optimis, menyoroti bahwa AI bukanlah pengganti manusia. Justru, AI dapat menjadi mitra kerja yang baik asalkan kita mampu mengenali kekuatan yang ada dalam diri.
Buku ini relevan untuk siapa pun yang hidup di era digital dan ingin tetap merasa utuh sebagai manusia.
📌 Ringkasan Isi
Buku ini lahir dari pengalaman Tyo Guritno selama dua belas tahun di Silicon Valley, merangkum renungan pribadi, kisah-kisah yang membangkitkan semangat, serta strategi praktis. Esensi dari ide "PowerHuman" adalah individu yang sadar tujuan, pandai mengenali kekuatan, menumbuhkan keterampilan seperti kreativitas dan empati, dan berkolaborasi dengan AI tanpa kehilangan jati diri. Segmen seperti "Masterpiece Mindset" menyoroti peran manusia sebagai "pengarah" yang merumuskan visi sebelum memberdayakan AI untuk mempercepat proses, sambil memelihara kearifan dan integritas intelektual yang tak dimiliki mesin.
Alih-alih menyajikan bayangan suram tentang masa depan yang menakutkan, Tyo Guritno justru mengajak kita merenungkan satu poin krusial:
Kecerdasan buatan tak lebih dari sekadar instrumen. Manusia tetaplah pusat perhatian.
Lewat tulisan ini, pembaca diajak memaknai transformasi teknologi sebagai kesempatan untuk:
- mengeksplorasi kembali kapasitas diri,
- mempertegas fungsi manusia yang tak tergantikan oleh robot,
- serta menumbuhkan cara berpikir adaptif tanpa melupakan esensi kemanusiaan.
Ide PowerHuman bukan berarti manusia hebat dan serba bisa, melainkan insan yang menyadari makna hidupnya, punya daya, dan sanggup bersinergi dengan teknologi secara arif.
Tyo merujuk pada tokoh semacam Lao Tzu ("Mengenali diri sendiri adalah kearifan yang hakiki") dan Bernard Stiegler saat membahas isu eksistensial di era AI. Tantangan terbesarnya adalah menjaga keyakinan serta identitas diri ketika dunia kerja terus berubah.
Konsep Utama yang terdapat di buku
Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI, sebuah karya dari Tyo Guritno, menyoroti transformasi manusia saat AI semakin mendominasi. Buku ini menekankan pentingnya introspeksi dan kolaborasi bersama teknologi. Alih-alih menebarkan kecemasan, buku ini menginspirasi pembaca agar adaptif dan bijak dalam memanfaatkannya.
Konsep PowerHuman
Inti gagasannya adalah PowerHuman: seseorang yang memahami arah hidupnya, menyadari kekuatan uniknya (seperti kreativitas, empati, dan spiritualitas), dan mengasah keterampilan lunak yang tak tergantikan oleh robot. Ide ini, yang terinspirasi oleh ajaran Lao Tzu, menyoroti betapa pentingnya pemahaman diri sebagai bentuk kearifan hakiki untuk menjawab tantangan identitas di era digital.
Tyo Guritno menjelaskan bahwa kunci bertahan di era AI bukan hanya skill teknis, tapi:
- kesadaran diri,
- kemampuan berpikir kritis,
- empati,
- dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Inilah fondasi utama PowerHuman.
Masterpiece Mindset
Manusia lebih baik dalam merumuskan pandangan penting, sesuatu yang luar biasa, sementara AI unggul dalam pekerjaan biasa dan eksekusi gesit; peran kita adalah memberi arahan, bukan mengerjakan hal-hal detail.
Teknologi akan selalu mengalami perkembangan. Namun, cara pikir manusia yang akan menentukan apakah perubahan tersebut merupakan kesempatan atau risiko. Buku ini mengajak pembacanya untuk bersikap reflektif, bukan reaktif, dalam menghadapi kemajuan kecerdasan buatan.
AI Fluency dan Kolaborasi
Alih-alih memandang AI sebagai pesaing, cobalah untuk lebih memahaminya sebagai partner. AI memang unggul dalam mengerjakan tugas-tugas rutin, namun manusia jauh lebih piawai dalam berinovasi, memikirkan implikasi etis, serta menjalin ikatan emosional.
Buku ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak perlu dianggap sebagai sebuah bahaya. Ketika dimanfaatkan dengan benar, AI sebenarnya dapat meningkatkan potensi yang dimiliki manusia—baik dalam hal pekerjaan, kreativitas, dan cara mengambil keputusan.
Refleksi Eksistensial
Dengan merujuk pada gagasan para filsuf, termasuk Bernard Stiegler, buku ini mengulas transformasi signifikan dari Silicon Valley sampai Indonesia. Tujuannya adalah mendorong pembaca mempertahankan esensi kemanusiaan dengan mengembangkan kesadaran serta perhatian mendalam.
Pengalaman penulis yang luas dalam bidang teknologi, termasuk di skala internasional, membuat karya ini terasa sangat nyata. Tidak hanya sekadar teori, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari pembaca.
Konteks Sosio-Teknologis dan Urgensi Literasi Eksistensial
Di tahun 2025, Bentang Pustaka menerbitkan buku ini seiring dengan meningkatnya keresahan publik tentang bagaimana otomatisasi memengaruhi pekerjaan manusia di masa depan. Ini bukan kali pertama manusia menghadapi perubahan besar; Guritno membuka cerita dengan melihat ke belakang, ke awal 2000-an, saat media sosial mulai mengubah cara kita berhubungan dan menilai diri sendiri. Pengalaman penulis bekerja di Pandora, Oakland, California, memperlihatkan bagaimana teknologi digital, bahkan di masa lalu, menimbulkan masalah kepercayaan diri dan dorongan untuk "detoks media sosial" akibat tekanan untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain.
Tetapi, bahaya yang dibawa AI sekarang jauh lebih besar dari era Web 2. 0. Jika media sosial merusak jiwa kita dari luar, AI mengguncang jati diri kita dengan kemampuannya meniru cara berpikir, berkreasi, dan mengambil keputusan. Buku ini dengan pintar menjelaskan bahwa bahaya terbesar bagi kita saat ini bukanlah kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan fokus, cinta pada diri sendiri, dan makna hidup yang sesungguhnya di tengah dunia yang serba cepat. Maka dari itu, dibuat sebagai cara untuk "menenangkan diri" dan menemukan kembali diri kita di era kecerdasan buatan.
✍ Profil Penulis: Antara Pengalaman dan Visi
Inti dari kisah yang disajikan di sini bertumpu pada rekam jejak Tyo Guritno yang solid di dunia teknologi internasional. Sebagai seorang pengusaha dan pakar teknologi dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, Guritno menghabiskan 12 tahun di Silicon Valley, bekerja di perusahaan besar seperti Electronic Arts (EA) dan Pandora. Peran krusialnya dalam menciptakan produk dan pengalaman pengguna di platform populer memberinya wawasan mendalam tentang dampak desain digital pada tingkah laku manusia.
Kepulangannya ke Indonesia, ditambah keberhasilannya membangun dan menjual dua startup teknologi, membuktikan kemampuannya beradaptasi dan visi strategis yang tajam di pasar Indonesia. Saat ini, sebagai CEO dan pendiri Inspigo, platform belajar profesional berbasis AI generatif, Guritno berada di garda depan penerapan teknologi yang ia bahas dalam bukunya. Sertifikasinya sebagai pelatih Model Perilaku BJ Fogg dari Stanford University juga memberi landasan ilmiah kuat untuk metode perubahan perilaku yang ia tawarkan ke pembaca. Keterlibatannya dengan Yoris Sebastian sebagai editor ahli memperkaya buku ini dengan perspektif kreativitas praktis yang sudah teruji di Indonesia.
📊 Target pembaca Becoming PowerHuman
Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI karya Tyo Guritno diperuntukkan bagi khalayak luas yang menyimpan keresahan atau ketertarikan pada dampak AI dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini dirancang supaya gampang dipahami oleh semua umur, bukan cuma mereka yang berkecimpung di ranah teknologi.
Target Utama
- Para pekerja remote dan kalangan profesional yang merasa terancam oleh kehadiran AI di dunia kerja, kini berupaya mencari strategi baru. Mereka mencoba beradaptasi dengan mengembangkan pola pikir yang lebih mengutamakan kolaborasi.
- Orang tua dan siswa: Mencakup anak-anak SMP/SMA yang memerlukan pemahaman dasar tentang AI dengan bantuan guru, guna mengurangi ketergantungan pada internet sambil mengembangkan keterampilan sosial.
- Pendidik dan generasi muda: Panduan pemikiran untuk mempertahankan jati diri manusia di zaman teknologi yang maju.
- Siapa pun yang berpikir kritis: Para pembaca umum ingin meningkatkan diri, mengurangi ketergantungan pada perangkat, dan mengembangkan pola pikir "PowerHuman".
Buku ini pas bagi Anda yang tertarik dengan filsafat dan pengembangan diri di Indonesia, ditulis dalam bahasa yang sederhana dan berdasarkan pengalaman di Silicon Valley.
Ringkasan tiap bab secara singkat
Buku karya Tyo Guritno ini tidak menyediakan ringkasan terperinci untuk setiap bab yang dapat ditemukan di sumber publik saat ini. Berdasarkan tinjauan dan penjelasan dari penerbit, buku ini disusun secara mengalir dengan tema yang progresif, dibandingkan dibagi menjadi bab-bab terpisah yang kaku.
Struktur Umum dan Ringkasan Tema
- Pendahuluan/Pengalaman Silicon Valley: Tyo membagikan pengalamannya selama 12 tahun di pusat teknologi AS, menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh AI dan pentingnya evolusi manusia.
- PowerHuman Defined: Menguraikan ide dasar: memahami tujuan hidup, mengidentifikasi kekuatan khas (empati, kreativitas), mengutip Lao Tzu mengenai kesadaran diri.
- Masterpiece Mindset: Manusia berperan sebagai pengatur visi yang bermakna; AI bertanggung jawab atas pelaksanaan yang cepat, tetapi kita menentukan etika dan tujuan.
Bagian Tengah: Strategi Praktis
- AI Fluency: Cara meningkatkan pengetahuan dasar tentang Kecerdasan Buatan; berkolaborasi, bukan berkompetisi; gambaran pengaruh pekerjaan di Indonesia.
- Kemampuan Soft Skills Unggul: Pupuk empati, kedalaman spiritual, dan inovasi orisinal; batasi penggunaan gawai lewat kesadaran diri.
- Menuju PowerHuman: Aktivitas sehari-hari berkolaborasi dengan AI; kata akhir: berkembang menjadi insan seutuhnya, alih-alih khawatir tergantikan.
Kelebihan dan Kekurangan
✅Kelebihan
Penjelasan disampaikan dengan bahasa sederhana dan lugas, menghindari jargon teknis, sehingga cocok untuk mereka yang baru mengenal AI dan merasa khawatir; memberikan motivasi melalui studi kasus konkret di dunia teknologi; menekankan pentingnya pengembangan diri dan kemampuan sosial, seperti rasa peduli, yang sulit ditiru oleh kecerdasan buatan.
❌Kekurangan
Sejumlah tanggapan menyatakan bahwa ulasan tentang sisi teknologi kecerdasan buatan terasa kurang mendalam, cenderung mengutamakan sudut pandang filosofis. Selain itu, terdapat potensi terjadinya repetisi dalam penekanan pada kerangka berpikir.
💡 Kesimpulan Review
"Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI" karya Tyo Guritno lebih dari sekadar buku tentang teknologi. Ini adalah panduan esensial agar kita bisa memaknai kembali diri kita di tengah perubahan dunia yang begitu pesat. Dengan memadukan pengalaman pribadi, perenungan mendalam, dan saran yang aplikatif, buku ini sangat relevan dibaca saat perbincangan tentang AI sering kali dibayangi rasa khawatir akan masa depan pekerjaan dan eksistensi manusia.
"Becoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI" wajib dibaca oleh para pemimpin bisnis, tenaga pengajar, pekerja kreatif, juga siapa pun yang merasa gamang dengan masa depan di era serba otomatis ini. Buku ini tidak menawarkan jalan pintas menuju kekayaan, tetapi memberikan arahan untuk mengubah jati diri.
Dari kajian mendalam ini, ada sejumlah tindakan strategis yang bisa kita pelajari dari buku ini, contohnya:
- Reclaiming Attention (Merebut Kembali Fokus): Membiasakan diri dengan kesadaran penuh adalah cara untuk mengendalikan kembali atensi kita, yang kerap kali direbut oleh algoritma media sosial dan kecerdasan buatan yang bersifat membuat ketagihan.
- Developing AI Fluency (Menumbuhkan Kemampuan AI): Daripada menghindari kecerdasan buatan, lebih baik kita belajar memanfaatkannya sebagai rekan kerja untuk meningkatkan efisiensi, tanpa menyerahkan nilai-nilai penting kita kepada AI.
- Cultivating the Masterpiece Mindset (Memperkuat Pola Pikir Unggul): Bercita-citalah menjadi pencipta yang memusatkan perhatian pada esensi dan "ruh", memastikan setiap karya yang dihasilkan mengandung sentuhan manusiawi yang tak mungkin ditiru oleh mesin.
- Embracing Lifelong Learning (Menerapkan Pembelajaran Seumur Hidup): Sadarilah bahwa kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri secara kreatif adalah modal utama di masa depan, jauh melampaui ijazah atau keterampilan teknis yang statis.
Melalui pendekatan yang mendalam dan aplikatif, Tyo Guritno telah memberikan kontribusi penting bagi khazanah literatur tentang teknologi dan pengembangan diri di Indonesia. Menjadi PowerHuman bukan hanya soal bertahan di era AI, tetapi juga tentang berkembang dan menggali makna baru dalam diri kita yang unik dan tak tergantikan. Teknologi sekadar alat, manusialah perancangnya. Di tangan PowerHuman, AI akan menjadi sarana untuk melahirkan karya yang lebih agung dan bermakna.
| Judul | Rating | Cerita & Ilustrasi | Tebal | Berat | Format | Tanggal Terbit | Dimensi | ISBN | Penerbit |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| JudulBecoming PowerHuman: Manusia Berdaya di Era AI | RatingDi Isi | Cerita & IlustrasiTyo Guritno | Tebal180 - 192 halaman | Berat350 gr | FormatSoft copy | Tanggal TerbitOctober 15, 2025 | Dimensi20 cm x 13 cm | ISBN9786231865229 | PenerbitBentang Pustaka |
Dapatkan buku ini di Marketplace maupun di Gramedia.com
Pesan dari
KATALOG BUKU
Buku pilhan lainnya:
Bingung ingin baca review buku apalagi? Silakan cari disini.
Kamu juga bisa temukan buku lain nya di Katalog Kami

.png)






.gif)

Posting Komentar
0 Komentar