Review buku Reset Indonesia karya Farid Gaban yang mengulas krisis demokrasi, politik, dan nalar publik Indonesia. Esai reflektif yang relevan dan menggugah.
Review Buku Reset Indonesia Karya Farid Gaban
Mencari Jalan Baru untuk Masa Depan Bangsa
Identitas Buku
Judul: Reset Indonesia
Penulis: Farid Gaban
Penerbit: Patjar Merah
Tahun Terbit: 2025
Genre: Esai, Sosial, Politik, Kebangsaan
"Reset Indonesia," sebuah buku hasil kolaborasi Farid Gaban bersama kolega, menawarkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa. Buku ini merangkum perspektif perjalanan jurnalistik lintas generasi. Karya tersebut menjadi referensi krusial bagi siapa saja yang tertarik dengan kajian sosial serta lingkungan hidup di Indonesia.
Gambaran Umum Buku Reset Indonesia
Terciptanya buku ini adalah hasil dari penjelajahan selama 424 hari, merambah 26 provinsi serta 120 kota dan kabupaten, mengikuti jejak ekspedisi terdahulu semacam Zamrud Khatulistiwa dan Indonesia Biru. Sang penulis mendokumentasikan khayalan warga, keanekaragaman hayati, juga jalinan komunitas guna melukiskan Indonesia yang menawan namun juga rentan.
Latar Belakang Penulisan Reset Indonesia
Buku Reset Indonesia disusun sebagai jawaban atas krisis multidimensi yang membahayakan kelangsungan negara, muncul dari rasa cinta terhadap tanah air yang tergerus oleh ketidakadilan struktural. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan solusi perbaikan melalui refleksi berdasarkan pengalaman, bukan hanya sekadar kritikan.
Krisis yang Menginspirasi
Farid Gaban dan tim mengamati tanda-tanda kekacauan sosial dan ekonomi akibat demonstrasi besar, penanganan bencana alam yang tidak adekuat, serta kebijakan lingkungan yang merugikan masyarakat kecil. Proses pembangunan terjebak dalam pola pertumbuhan yang tidak nyata, penyalahgunaan sumber daya alam yang tidak seimbang, dan sistem sentralisme yang mengabaikan masyarakat akar rumput menjadi penyebab utama.
Ekspedisi Sebagai Fondasi
Latar belakang dari perjalanan ekspedisi selama 424 hari di Indonesia, yang melanjutkan proyek Zamrud Khatulistiwa dan Indonesia Biru selama 15 tahun, bertujuan untuk mendokumentasikan kenyataan mulai dari kota yang ramai hingga desa-desa kecil. Buku ini merepresentasikan pertanyaan bersama masyarakat: "Apakah Indonesia masih memiliki tujuan? ".
Keunikan epistemologis dari Reset Indonesia terdapat pada pendekatan metodologis yang didasarkan pada pengalaman empiris yang berlangsung lama. Buku ini adalah hasil dari tiga perjalanan besar: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010), Ekspedisi Indonesia Biru (2015-2016), dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022-2023). Selama periode ini, para penulis tidak hanya mengumpulkan angka-angka statistik, tetapi juga melakukan apa yang disebut dengan jurnalisme "napas jarak dekat", yang melibatkan mendengarkan suara-suara dari masyarakat adat, petani, nelayan, dan kelompok marjinal yang sering diabaikan aspirasinya dalam proses pembuatan kebijakan di Jakarta.
Tujuan Penulisan
Menyediakan kesempatan untuk refleksi masyarakat, menyusun ide tentang desentralisasi dan keadilan, serta menghindari kemungkinan krisis nasional melalui serangkaian diskusi di 50 kota. Meskipun mengalami pertentangan seperti pembatalan acara, buku ini muncul dari dedikasi jurnalistik untuk menciptakan bangsa yang adil dan berkelanjutan.
Isi dan Pembahasan Buku Reset Indonesia
Buku Reset Indonesia berisi kumpulan esai Farid Gaban yang membahas berbagai persoalan mendasar bangsa, mulai dari:
Demokrasi yang kehilangan makna
Politik yang jauh dari etika
Pendidikan yang gagal mencerdaskan secara utuh
Media, hoaks, dan krisis nalar publik
Hilangnya empati dalam kehidupan sosial
Farid Gaban tidak menawarkan solusi instan. Ia justru mengajak pembaca berpikir ulang: apakah arah yang selama ini kita tempuh benar-benar membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik?
Buku Reset Indonesia yang ditulis oleh Farid Gaban dan rekan-rekannya menyajikan sebuah konten yang menyeluruh untuk mengungkapkan krisis sistemik yang dihadapi bangsa serta memberikan solusi yang berorientasi ke masa depan berdasarkan pengalaman dari perjalanan selama 15 tahun. Buku ini terstruktur dengan analisis mendetail mengenai masalah pada bab-bab awal dan ide-ide untuk rekonstruksi pada bagian akhir, yang mencakup 448 halaman yang kaya dengan data lapangan dan referensi dari seluruh dunia.
Struktur dan Bab Utama
Pada Bab 1, dibahas tentang kegagalan dalam pembangunan yang terlihat dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak seimbang, permasalahan agraria (Wadas, Papua), sungai yang tercemar (Citarum, Brantas), serta ketidakadilan sosial di daerah pedesaan yang berakar dari kebijakan pemerintah pusat. Sementara itu, Bab 2 berjudul "Ada Dunia Lain" menampilkan harapan melalui sistem ekonomi yang berbasis pada rakyat, pendapatan dasar universal (UBI), dan solidaritas komunitas yang menggeser persaingan yang merugikan.
Pembahasan Isu Utama
Karya ini mencatat isu-isu seperti konflik sumber daya alam, keadilan sosial, komunitas adat, lingkungan, perubahan iklim, korupsi dalam politik, sistem partai oligarki, serta kerusuhan di ibu kota dari sudut pandang masyarakat sipil. Terdapat kritik tajam terhadap logika produk domestik bruto yang semu yang mengabaikan kerusakan ekosistem serta potensi demografi yang hilang karena kondisi kesehatan yang buruk.
Solusi dan Pemulihan
Buku Reset Indonesia mengusulkan bahwa desentralisasi harus menjadi solusi utama untuk mengakhiri kolonialisme internal serta membawa kekuasaan lebih dekat ke daerah. Contoh spesifiknya mencakup sistem federalisme, reformasi dalam pertanian, dan pengelolaan sumber daya lokal demi kesejahteraan masyarakat.
Strategi-strategi terdepan seperti reformasi agraria radikal (di mana 60% petani memiliki kurang dari 0,5 hektar tanah), desentralisasi federal, transisi ke energi terbarukan untuk masyarakat, pendidikan lokal yang esensial, dan kerangka kerja kebijaksanaan seperti Sasi Maluku telah terbukti efektif melalui kasus-kasus sukses di negara lain. Kesimpulan ini menyoroti kebutuhan untuk mereset nilai-nilai kita agar fokus pada hubungan antara manusia dan alam, tanpa menghapus sejarah, guna menciptakan negara yang adil dan berkelanjutan.
Usulan untuk meninjau struktur pemerintahan dan mempertimbangkan peralihan ke sistem federal, memastikan bahwa sumber daya alam di daerah seperti Sumba, Papua, dan Maluku digunakan secara lokal daripada dieksploitasi oleh pemerintah pusat. Otonomi daerah saat ini dianggap sebagai prosedur yang sederhana; oleh karena itu, federalisme menawarkan wewenang politik yang sejati tanpa menyebabkan pemisahan.
Reformasi pertanian yang komprehensif diperlukan bagi petani, di mana 60% di antaranya memiliki kurang dari 0,5 hektar tanah. Koperasi, seperti yang ada di Kalimantan Barat, menjadi contoh model untuk meningkatkan sumber pendanaan. Kembalikan wewenang atas tanah, benih, dan lahan pertanian kepada masyarakat, beralih dari pendekatan terpusat ke pendekatan yang mengandalkan pengetahuan lokal.
Reformasi partai politik diperlukan untuk membebaskan pejabat terpilih dari pengaruh kelompok kecil, memastikan mereka mewakili suara komunitas lokal secara akurat di legislatif. Pendidikan harus berfokus pada keterampilan esensial dan nilai-nilai manusia daripada pendekatan seragam, guna mengatasi tuntutan kecerdasan buatan dan kebutuhan komunitas lokal secara efektif.
Gaya Penulisan Farid Gaban
Gaya penulisan Farid Gaban dalam Reset Indonesia menggabungkan narasi lapangan dengan data empiris dan teori, menghasilkan teks yang kaya akan detail dan memicu refleksi. Pendekatan naratifnya dalam jurnalisme memadukan kisah pribadi dari ekspedisi dengan analisis tajam untuk menyampaikan kompleksitas isu-isu socio-ekologis.
Gambaran yang hidup tentang perjalanan dari Pulau Weh ke Sota, yang menyoroti ironi sungai yang tercemar dan sengketa tanah, ditulis dengan sudut pandang yang sangat dekat, memicu emosi pembaca. Kutipan sastra seperti karya Ray Bradbury (“setengah kesenangan dalam perjalanan adalah menikmati keindahan tersesat”) menambahkan lapisan puitis pada pengalaman tim.
Setiap argumen didukung oleh data lapangan, statistik, dan referensi teoretis, menjadikan pembahasan 16 isu (dari korupsi hingga perubahan iklim) kredibel dan dapat ditindaklanjuti. Transisi yang mulus antara fakta mentah dan interpretasi, menghindari jargon kompleks untuk memastikan aksesibilitas lintas generasi.
Sebagai generasi baby boomer, Gaban mewakili sudut pandang matang yang melengkapi suara Gen Z (Benaya Harobu), menghasilkan suara kolektif yang dinamis dan inklusif. Gaya keseluruhan sangat baik dalam menggabungkan kritik radikal dengan harapan optimis, mirip dengan analisis kuat yang disajikan dalam Bab 1, “How Low Can You Go.”
Membedah "How Low Can You Go"
Reset Indonesia dimulai dengan analisis mendalam yang mengkaji kegagalan layanan publik dasar sebagai indikator kesehatan suatu negara. Pertanyaan retoris tentang mengapa air ledeng di Indonesia tetap tidak layak minum menjadi titik masuk untuk menganalisis kerusakan ekologi sungai dan pengelolaan infrastruktur yang buruk. Bab pertama berjudul “How Low Can You Go” menyajikan gambaran penurunan kualitas hidup masyarakat di tengah klaim pertumbuhan ekonomi yang terus dipromosikan oleh pemerintah. Analisis ini mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara angka-angka statistik yang dipaparkan di lingkaran kekuasaan dan realitas jalan berdebu, hutan yang gundul, serta lautan yang dikelilingi oleh operasi pertambangan di kedalaman kepulauan.
Para penulis mengemukakan pendapat bahwa saat ini Indonesia terperangkap dalam kondisi yang dikenal sebagai "kutukan sumber daya. " Walaupun negara memiliki sumber daya alam yang banyak, sumber daya tersebut sering menjadi penyebab konflik dan kemiskinan bagi masyarakat lokal, karena dikelola dengan cara ekonomi ekstraktif yang hanya menguntungkan kelompok elite. Kesenjangan ini semakin parah akibat kebijakan pemerintah pusat yang sering kali tidak sesuai dengan kearifan lokal. Proyek pembangunan besar justru merusak sumber penghidupan masyarakat dan menciptakan kelompok-kelompok kemiskinan baru di daerah yang sebelumnya sudah mandiri secara ekonomi.
Filosofi "Reset" vs "Restart": Mengurai Akar Persoalan secara Struktural
Salah satu buah pemikiran terpenting yang ditawarkan buku ini adalah pembedaan antara "memulai ulang" dan "mengatur ulang". Dalam ranah teknologi informasi yang diterapkan pada wacana politik, Farid Gaban menjabarkan bahwa memulai ulang sekadar berupaya mematikan lalu menghidupkan sistem yang sama tanpa mengubah fondasinya. Tindakan ini kerap kali justru memulihkan problem sistem yang itu-itu juga. Sementara itu, mengatur ulang bermakna mengembalikan sistem ke "setelan pabrik" atau kondisi dasar, melenyapkan seluruh kerusakan struktural, serta memprogram ulang asas-asas kerjanya agar selaras dengan amanat awal kemerdekaan.
Indonesia memerlukan perubahan besar. Penulis berpendapat bahwa kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh letak geografis atau adat istiadat, tetapi akibat dari sistem politik yang sengaja dibuat untuk melanggengkan ketergantungan masyarakat. Maka dari itu, solusi yang diberikan bukanlah sekadar sedekah, melainkan perbaikan regulasi serta tata pemerintahan yang menjunjung tinggi keadilan sosial serta lingkungan hidup. Buku ini tegas menyindir bagaimana para oligarki memakai "O3" (Otot, Otak, dan Ongkos) demi mempertahankan dominasi dan mengesampingkan kaum yang rentan.
Realitas Lapangan: Isu Agraria dan Degradasi Lingkungan
Dalam catatan perjalanannya, Reset Indonesia menyoroti berbagai "kebijakan keliru" yang terjadi di sejumlah wilayah. Di Sumatra, penulis menunjuk pada deforestasi masif beserta dampak buruk lingkungan yang sebenarnya sudah diprediksi, namun tak digubris oleh pengambil keputusan. Sementara di Papua, sorotan tertuju pada perkembangan industri yang mengancam eksistensi masyarakat adat serta menghancurkan ekosistem hutan hujan tropis terakhir di Indonesia. Penulis berpendapat bahwa pembangunan yang abai terhadap prinsip keadilan hanya akan memperlebar kesenjangan antara pemerintah dan warganya.
Dalam buku ini, persoalan lingkungan tidak dibahas sendiri-sendiri, tetapi justru terkait erat dengan ranah politik dan hak asasi manusia. Penulis menekankan bahwa degradasi alam sering kali merupakan cerminan ketidaksetaraan kekuasaan, dengan negara cenderung melindungi kepentingan pengusaha namun absen saat warga kehilangan hak atas tanah dan lingkungan sehat. Solusi perubahan iklim yang lebih manusiawi dan berkeadilan, yang mengandalkan kearifan lokal, ditawarkan sebagai opsi lain dibandingkan solusi teknologi berbiaya tinggi yang kerap gagal mengatasi akar permasalahan di lapangan.
Perspektif Generasi Muda: Harapan di Tengah Krisis
Buku ini menyoroti suara Gen Z dan Milenial lewat kontribusi Benaya Harobu serta Yusuf Priambodo. Mereka melukiskan getirnya zaman kini, lapangan kerja yang makin sempit, harga properti yang melambung tinggi tak terjangkau anak muda, dan biaya hidup sehari-hari yang terus naik karena inflasi sosial. Peristiwa "generasi sandwich" yang menanggung beban ekonomi lintas generasi menjadi bahasan penting untuk pembaca muda.
Lewat cerita ini, Reset Indonesia berupaya merajut "modal sosial" di antara anak muda. Harapannya, masyarakat punya posisi yang seimbang dengan pemilik modal dan elite di pemerintahan. Penulis menyoroti betapa pentingnya peran "intelektual organik"—orang atau kelompok dari komunitas lokal yang bisa menyuarakan masalah masyarakatnya—sebagai kunci perubahan sosial yang nyata dan berkesinambungan.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan buku Reset Indonesia
Kekuatan buku ini terletak pada riset mendalam di lapangan, referensi yang lengkap, serta gaya penuturan yang menggugah kaum muda. Sejumlah tanggapan menyebutkan bahwa penggunaan istilah ilmiahnya cukup intens, cocok untuk siapa saja meski butuh ketelitian. Kontroversi tentang pelarangan penjualan buku di suatu wilayah justru meningkatkan minat orang untuk membacanya karena keberaniannya.
Secara singkat, beberapa poin kelebihan dari buku ini:
✅ Isu yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia
✅ Ditulis oleh jurnalis berpengalaman dengan sudut pandang matang
✅ Mengajak pembaca berpikir kritis, bukan sekadar menyalahkan
✅ Cocok dibaca lintas generasi
Kekurangan buku Reset Indonesia
Buku berjudul "Reset Indonesia" menuai pujian atas riset mendalam yang menjadi dasarnya, walaupun sejumlah pendapat menyoroti kekurangan dalam cara penyampaian serta keseimbangan argumen. Kecenderungan bias ideologis dan ketiadaan solusi konkret yang gamblang menjadi sorotan utama yang kerap dilontarkan.
Buku ini cenderung sangat tajam dalam mengkritik sistem yang tersentralisasi serta kekuasaan oligarki, namun kurang menyoroti capaian pembangunan atau contoh keberhasilan pemerintah, yang membuat narasi terkesan kurang berimbang. Sejumlah pembaca di Goodreads berpendapat bahwa gagasan radikal semacam federalisme terasa memprovokasi, namun tanpa kajian kontra-argumen yang komprehensif.
Gagasan seperti UBI (pendapatan dasar universal), reformasi agraria secara menyeluruh, dan desentralisasi pendidikan dinilai terlalu idealis karena tidak dilengkapi dengan rencana penerapan yang mendetail, perkiraan anggaran, ataupun contoh transisi yang realistis. Sejumlah ulasan menyebutkan bahwa buku ini lebih berfungsi sebagai diagnosis ketimbang pedoman yang dapat ditindaklanjuti pembuat kebijakan.
Dengan total 448 halaman yang sarat dengan data dan referensi, isi buku ini terkadang terasa berat bagi pembaca awam, meski kisah-kisah dari lapangan yang dipaparkan cukup menarik. Judul "Reset" yang terkesan provokatif justru memicu polemik eksternal seperti pembubaran diskusi, yang ironisnya menghambat terciptanya ruang dialog.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini?
Buku Reset Indonesia cocok untuk:
Pembaca yang tertarik isu sosial dan kebangsaan
Mahasiswa, akademisi, dan aktivis
Jurnalis dan penulis esai
Siapa pun yang ingin memahami Indonesia secara lebih jujur
Kesimpulan
Buku ini akan sangat menarik bagi pembaca yang gemar mendalami tinjauan sastra, pesan-pesan moral, serta dinamika hubungan sosial dalam karya non-fiksi. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya membangun kembali fondasi negara tanpa mengabaikan masa lalu.
Reset Indonesia, karya Farid Gaban, hadir sebagai ajakan yang lembut untuk berpikir, bukan sebagai bentuk provokasi yang berlebihan. Buku ini mendorong kita untuk tidak hanya menyalahkan keadaan, tetapi juga merenungkan: kontribusi apa yang bisa kita berikan sebagai warga negara?
Meskipun bukan bacaan ringan yang bisa diselesaikan dalam sekali waktu, buku ini menyimpan makna yang mendalam. Terutama bagi mereka yang percaya bahwa Indonesia memiliki potensi—dan kewajiban—untuk menjadi negara yang lebih baik.
Singkatnya, Reset Indonesia: Gagasan untuk Indonesia Baru berfungsi sebagai seruan damai—bukan sebagai kritik tajam terhadap pemerintah, melainkan sebagai pengingat akan eksistensi bangsa. Dengan menggabungkan fakta, teori, dan pengalaman nyata yang kaya, penulis berhasil menyajikan cerminan bagi Indonesia untuk melihat kelemahan dan lukanya tanpa rasa takut. Kesuksesan buku ini dalam memicu perdebatan yang luas dan diskusi publik yang intens, meskipun terkadang tersembunyi, membuktikan bahwa gagasan di dalamnya telah menyentuh inti dari kegelisahan yang mendalam di masyarakat Indonesia saat ini. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa dan bersedia berpartisipasi dalam upaya bersama untuk menata kembali Indonesia menuju era yang lebih bermartabat.
Sumber yang digunakan dalam review:
Kediripedia.com
Sinpo.id
Timesindonesia.co.id
Goodreads.com
Kbanews.com
Nisa.co.id
Inilahmojokerto.com
Dompetdhuafa.org
Toco.id
Tempo.co
Portaltuban.id
Radarbojonegoro. jawapos.com
Youtube.com
Cnnindonesia.com
Tirto.id
Lpmalmillah.com
Dianasusanti.com
Instagram
Abc.net.au
Semilir.co
Nu.or.id
Facebook
Judul
Rating
Cerita & Ilustrasi
Tebal
Berat
Format
Tanggal Terbit
Dimensi
ISBN
Penerbit
JudulReset Indonesia
Rating4.8
Cerita & IlustrasiFarid Gaban
Tebal448 halaman
Berat210 gram
FormatAC , (FC,) Doft
Tanggal Terbit2025
Dimensi14x21 cm,
ISBN978979775-3474
PenerbitPatjar Merah
Anda tertarik dengan buku ini?
Dapatkan buku ini di Marketplace Tokopedia atau Shopee
Posting Komentar
0 Komentar