Review buku Revolusi karya David Van Reybrouck. Mengungkap peran Indonesia dalam lahirnya dunia modern lewat riset sejarah yang mendalam.
Judul buku: Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern
Penulis: David Van Reybrouck
Genre: Sejarah, nonfiksi
Topik utama: Revolusi Indonesia, kolonialisme, politik global abad ke-20
Sebuah penulisan ulang yang menakjubkan, berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, adalah buah karya David van Reybrouck, seorang penulis dari Belgia yang reputasinya juga terbangun dari tulisan-tulisannya mengenai Kongo. Buku yang memiliki lebih dari tujuh ratus halaman ini mengupas tuntas pergulatan Indonesia dalam upaya mencapai kebebasan pasca-Perang Dunia Kedua, sebuah momen yang terbukti menjadi katalis utama bagi gerakan pembebasan koloni di skala internasional.
Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern ini menawarkan lebih dari sekadar rekaman peristiwa historis seputar Indonesia. Ia merupakan upaya serius untuk menempatkan Revolusi Indonesia dalam konteks kejadian dunia, alih-alih menjadikannya kisah lokal yang sering terpinggirkan dalam pandangan dunia Barat.
Setelah melakukan riset mendalam selama periode waktu yang panjang dan melakukan ratusan kali sesi wawancara, Van Reybrouck mampu merangkai sebuah kisah yang terasa sangat hidup, intim, dan mengagetkan—menunjukkan bagaimana kontribusi Indonesia berperan penting dalam membentuk lanskap dunia kontemporer.
Ringkasan Isi Buku Revolusi
Jilid ini mengajak audiens menelusuri masa awal abad ke-20, era saat Nusantara masih berada di bawah dominasi penjajahan. Akan tetapi, alih-alih langsung memperkenalkan figur-figur legendaris, Van Reybrouck memilih memulai dari kisah-kisah sederhana: kisah para prajurit, staf medis, pejuang, masyarakat umum, bahkan para saksi mata yang nyaris hilang dari catatan sejarah.
Buku ini memaparkan bagaimana Indonesia mampu menjadi negara perdana yang menyatakan kedaulatan hanya berselang dua hari pasca-Jepang menyerah di tahun 1945, meskipun proses pengakuan resmi baru terwujud setelah pergulatan keras selama empat setengah tahun hingga tahun 1949. Van Reybrouck mengadopsi gaya jurnalistik, mengawinkan data historis, testimoni pribadi, serta latar belakang isu global, termasuk pengaruh dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 yang kemudian menginspirasi tokoh-tokoh seperti Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela.
Alur ceritanya bermula dari penghujung masa kekuasaan Belanda, menyoroti ketidakadilan sosial seperti tragedi kapal Van der Wijck, hingga gelombang revolusi yang memberikan dampak besar bagi gerakan anti-penjajahan di wilayah Asia dan Afrika.
Tulisan David Van Reybrouck yang berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern merupakan sebuah prestasi signifikan dalam historiografi naratif, mengubah narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dari sekadar konflik lokal menjadi momen krusial yang membentuk peta politik global abad kedua puluh. Melalui perpaduan cermat antara penelitian arsip konvensional dan pendekatan sejarah lisan yang mendalam, Van Reybrouck merangkai kisah yang tidak hanya mempertanyakan mitos kolonialisme Belanda tetapi juga memberikan suara kepada individu-individu anonim yang berperan dalam menentukan arah sejarah. Buku ini, pertama kali terbit dalam bahasa Belanda tahun 2020 dan disusul edisi bahasa Inggris dan Indonesia pada 2024 serta 2025, kini diakui secara internasional sebagai salah satu karya paling fundamental mengenai proses dekolonisasi pasca-Perang Dunia Kedua.
Latar belakang David Van Rey Brouck menulis buku Revolusi
Sejarawan dan penulis asal Belgia, David van Reybrouck, mengarang sebuah buku berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, yang kemunculannya dipengaruhi oleh riwayat pribadinya terkait era kolonial Belgia-Belanda dan kesuksesan buku sebelumnya, Congo: The Epic History of a People (2010), yang meraih 20 penghargaan.
Inisiasi Awal
Usai perilisan Congo, van Reybrouck kerap didatangi oleh audiens dalam berbagai seminar di Belgia dan Belanda. Mereka mendorongnya untuk menelusuri dan menyusun sejarah kolonial Belanda di Nusantara, topik yang minim dikupas oleh penulis dari kawasan Barat. Walaupun awalnya ia mengarahkan mereka ke penulis Belanda lain, desakan ini terus berlanjut hingga ia merasa terdorong kuat untuk mendalami subjek ini, ditambah lagi dengan ikatan pribadinya yang kuat dengan Belanda—tempat ia meraih gelar PhD di Universitas Leiden dan pernah bermukim lama.
Periode Penelitian Intensif
Van Reybrouck mencurahkan waktu antara 6 sampai 7,5 tahun untuk melakukan penelitian yang mencakup berbagai benua, mewawancarai lebih dari 200 informan dari Indonesia (termasuk dari Minahasa, Jakarta, Mandar), Belanda, Jepang, hingga Nepal. Penulisan buku ini dimulai dari pertemuannya pada tahun 2006 dengan Jeanne, penerjemahnya di Indonesia, saat terjadinya bom Bali—peristiwa yang mendorongnya melihat narasi sejarah Indonesia sebagai "sejarah global" dalam bingkai dekolonisasi dunia, bukan hanya sekadar kisah domestik.
Latar Belakang Profesional
Kesuksesan Congo memberinya keleluasaan finansial untuk membiayai proyek ini tanpa hambatan dana, sementara pengalamannya menulis Against Elections dan karya drama seperti Mission memperkaya alur cerita yang berpusat pada sisi kemanusiaan. Buku tersebut laris manis di Belanda semenjak tahun 2020, sebuah bukti atas komitmennya menyuarakan tokoh-tokoh yang terpinggirkan dalam narasi sejarah pascakolonial.
Landasan Metodologis: Rekonstruksi Memori dan Sejarah Lisan
David van Reybrouck mengadopsi pendekatan riset yang bersifat "duniawi" yang mengombinasikan kesaksian lisan dengan data arsip, sekaligus menghindari ketergantungan berlebihan pada dokumen kolonial yang cenderung menampilkan sudut pandang kaum terpandang.
Poin kuat utama karya ini terletak pada pemanfaatan sejarah lisan oleh Van Reybrouck. Penulis menghabiskan waktu lebih dari lima tahun menjelajahi beragam benua demi menemukan para penyintas terakhir dari era revolusi tersebut. Telaah ini tidak hanya bertumpu pada sesi wawancara resmi dalam lingkup akademik, namun juga merangkum upaya kreatif unik, contohnya menggunakan aplikasi Tinder di Jepang untuk menjalin kontak dengan keturunan veteran Jepang demi menggali cerita dari leluhur mereka. Riset ini berfokus pada pengumpulan keterangan dari sekitar 200 orang yang menyaksikan langsung kejadian dari berbagai penjuru dunia: Indonesia (panti jompo, dusun terpencil, pulau-pulau kecil seperti Mandar), Belanda, Jepang, hingga Nepal bagi para prajurit Gurkha. Proses pengumpulan data ini membentang selama 6 hingga 7 tahun di berbagai kawasan benua, dengan gaya penyampaian jurnalistik yang memadukan fakta, pengalaman pribadi, serta kerangka geopolitik berskala internasional.
David van Reybrouck berbincang dengan kurang lebih dua ratus orang yang menyaksikan kejadian di beragam penjuru Nusantara, khususnya di panti werdha, kampung, dan kepulauan yang jauh guna mencatat kisah warga biasa.
Lokasi Spesifik
- Minahasa (Sulawesi Utara): Ia mewawancarai para penyaksi seputar pergulatan meraih kebebasan.
- Jakarta: Termasuk sesi temu di Kolese Kanisius dan wilayah perkotaan guna menangkap beragam perspektif.
- Mandar, Sulawesi Barat: Di Kabupaten Polewali Mandar dan Majene; ia tinggal di Nusa Pustaka, Pambusuang, sembari bersua pegiat literasi serta mahasiswa dari Unsulbar.
- Kampung terpencil serta gugusan pulau yang jarang didatangi: Secara umum maksudnya adalah para pejuang veteran dan mereka yang terdampak namun tanpa arsip resmi.
Pemilihan lokasi ini bertujuan untuk menggali narasi lisan yang murni, sekaligus melengkapi riset komparatif antarnegara seperti yang ia lakukan di Nepal dan Jepang.
Penulis mengamati bahwa ingatan dari para centenarian—orang yang usianya melampaui seratus tahun—kerap menyajikan sudut pandang yang lebih jernih, karena ingatan mereka belum begitu terpengaruh oleh norma sosial kontemporer atau konstruksi narasi sejarah resmi yang lazim diajarkan di bangku sekolah. Dengan menyimak kisah-kisah yang jarang terdengar—mulai dari pelaut Jerman yang tersesat, para wanita korban eksploitasi seksual, hingga Raden Mas Djajeng Pratomo, satu-satunya orang Indonesia yang tercatat pernah menjadi tahanan di kamp konsentrasi Dachau—Van Reybrouck berhasil merangkai sebuah mozaik yang melukiskan pengalaman kemanusiaan yang berlapis dan seringkali kontradiktif.
Pemilihan beragam narasumber ini memberikan peluang bagi buku tersebut untuk mengupas variasi pengalaman selama masa revolusi. Di Indonesia, pandangan mengenai kemerdekaan sungguh beragam; terdapat spektrum faksi politik yang saling bersaing, meliputi kubu Islam, komunis, sosialis, hingga nasionalis sekuler yang dipimpin oleh Sukarno dan Hatta. Van Reybrouck secara terbuka memaparkan pergulatan internal ini, termasuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh elemen Pemuda (generasi muda yang radikal) yang seringkali sulit dikendalikan oleh para pemimpin utama bangsa.
Latar belakangnya sebagai arkeolog mendorongnya untuk mencari suara dari kalangan rakyat jelata yang buta huruf dan luput dari catatan arsip, karenanya ia memanfaatkan jejaring sosial seperti Tinder untuk menemukan saksi-saksi lanjut usia sebelum waktu mereka habis. Pendekatan ini menjadikan bukunya sebagai "tenunan" dari kisah revolusi, meliputi perspektif dari Belanda, Indonesia, Jepang, dan wilayah lainnya.
Metode riset ini menghasilkan jalinan cerita yang kompleks, menyoroti aneka ragam ideologi (nasionalisme, Islam, Marxisme) beserta dampak global seperti pertemuan di Konferensi Asia-Afrika, yang membuat kisah Revolusi ini berbeda dari historiografi yang umumnya dikenal.
Perbandingan buku Revolusi dengan sejarah kemerdekaan Indonesia standar
David van Reybrouck, melalui karyanya berjudul Revolusi, menyajikan perspektif yang komprehensif dan rangkuman kisah dari beragam sisi, suatu hal yang berbeda dari alur cerita lazim mengenai perjalanan bangsa Indonesia menuju kedaulatan yang cenderung berfokus pada sentimen kebangsaan serta lebih banyak mengangkat figur-figur kalangan atas seperti Soekarno-Hatta dan pejuang militer.
Perbandingan Utama
| Aspek | Sejarah Standar Indonesia | Buku Revolusi van Reybrouck |
|---|---|---|
| Fokus Narasi | Nasionalis, heroik, perjuangan rakyat vs Belanda-Jepang | Global: dekolonisasi dunia, pengaruh Bandung 1955 pada MLK/Mandela; "sejarah dunia" bukan nasional |
| Sumber Utama | Arsip resmi, dokumen elit, propaganda kemerdekaan | Oral history: 200+ wawancara saksi biasa (pribumi, Belanda, Jepang, Gurkha Nepal) |
| Perspektif | Indo-sentris, anti-kolonial; mitos 350 tahun penjajahan penuh | Multi-sisi, netral; kolonialisme bertahap (5 tahap hingga 1914), kompleksitas ideologi (Islam, Marxis) |
| Gaya Penulisan | Akademis, kronologis, nasional-heroik | Jurnalistik-sastrawi, hidup seperti novel; bongkar mitos Barat-sentris |
| Cakupan | 1945-1949, internal RI | 1945-1949 + konteks pasca-kolonial global, pasang surut kekuasaan |
Karya tulis ini menguraikan konsep dasar, misalnya frasa "350 tahun jajahan Belanda" sebagai sebuah rangkaian perkembangan yang perlahan, sekaligus menyoroti peranan revolusi Indonesia sebagai pemicu gerakan penentangan terhadap kolonialisme di kawasan Asia dan Afrika.
Mitos Tiga Setengah Abad Penjajahan
Pandangan umum tentang "tiga setengah abad pendudukan Belanda" ditentang oleh Van Reybrouck karena dianggap terlalu menyederhanakan; kenyataannya, proses tersebut terjadi secara bertahap melalui lima fase hingga tahun 1914, dengan Belanda awalnya hanya mengendalikan sebagian kecil dari kerajaan setempat, bukan seluruh wilayah.
Kisah yang Terlalu Simplistik (Hitam-Putih)
Kritik utama diarahkan pada konsep "Indonesia melawan Belanda" yang sangat heroik dan didominasi narasi nasionalis; realitas revolusi jauh lebih kompleks, melibatkan spektrum ideologi yang berbeda (seperti Islam dan Marxisme), serta adanya tindakan kekerasan dari berbagai kelompok, ditambah dampak dari Jepang dan dinamika global—bukan semata-mata narasi yang disusun oleh pihak yang akhirnya berkuasa.
Pengabaian Perspektif Dunia dan Pengalaman Rakyat Jelata
Catatan sejarah yang umum gagal menempatkan Republik Indonesia sebagai katalisator gerakan dekolonisasi global (lewat Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menginspirasi tokoh seperti Nasser dan Mandela), serta mengabaikan kesaksian masyarakat biasa melalui sejarah lisan—fokusnya cenderung tertuju pada figur elit seperti Soekarno, sementara suara para saksi di pelosok terabaikan.
Lapisan Sosial Era Kolonial dan Analogi Kapal Uap
Sebuah instrumen penting dalam kajian ini yaitu penggunaan tenggelamnya kapal uap Van der Wijck di tahun 1936 sebagai ilustrasi kecil struktur masyarakat Hindia Belanda saat itu. Kapal tersebut terdiri dari tiga tingkat yang memilah penumpang berdasarkan kasta rasial dan status sosial secara kaku, merefleksikan susunan tingkatan berbau rasis yang diterapkan oleh administrasi kolonial Belanda.
- Lantai Teratas (Kaum Eropa): Disediakan eksklusif bagi orang-orang kulit putih yang menikmati kemewahan maksimal, dilengkapi dengan kamar pribadi berisi sarana mutakhir serta zona hiburan yang terisolasi.
- Lantai Tengah (Asia Asing dan Campuran): Ditinggali oleh komunitas Tionghoa, Arab, serta Indo-Eropa yang menduduki level administrasi menengah, meskipun tetap terpisah dari golongan kulit putih tertinggi.
- Lantai Paling Bawah (Penduduk Lokal): Area di mana mayoritas penduduk asli dipaksa bertahan dalam situasi yang amat menyedihkan, hanya dibekali area tidur kurang dari dua meter persegi bagi diri dan segala milik mereka.
Efek Pendudukan Jepang dan Kelangkaan Kalori
Pengalaman Para Saksi dari Jepang dan Nepal dalam Karya Tulis
Jepang Memberikan Pengakuan
Kesaksian dari Nepal
Perjuangan Kemerdekaan (1945–1949): Pertumpahan Darah dan Perundingan
Konferensi Bandung 1955: Sebuah Fajar Baru di Era Kontemporer
Kekuatan Buku Revolusi
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan
Untuk Siapa Buku Ini?
- pembaca dewasa & mahasiswa,
- penikmat buku sejarah dan politik,
- pembaca yang ingin melihat Indonesia dari perspektif global,
- siapa pun yang ingin memahami kemerdekaan Indonesia secara lebih utuh dan jujur.
Kesimpulan Ulasan
| Judul | Rating | Cerita & Ilustrasi | Tebal | Berat | Format | Tanggal Terbit | Dimensi | ISBN | Penerbit |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| JudulRevolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern | Rating5.0 | Cerita & IlustrasiDavid Van Reybrouck | Tebal742 halamn | Berat1,050 Kg | FormatSoft Cover | Tanggal Terbit3 Oktober 2025 | Dimensi23 cm x 15 cm | ISBN9786020685311 | PenerbitGramedia Pustaka Utama |
Pesan dari
KATALOG BUKU
Buku pilhan lainnya:
Bingung ingin baca review buku apalagi? Silakan cari disini.
Kamu juga bisa temukan buku lain nya di Katalog Kami




