Review Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern – Kisah Global di Balik Kemerdekaan Indonesia


Review buku Revolusi karya David Van Reybrouck. Mengungkap peran Indonesia dalam lahirnya dunia modern lewat riset sejarah yang mendalam.




Judul buku: Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern
Penulis: David Van Reybrouck
Genre: Sejarah, nonfiksi
Topik utama: Revolusi Indonesia, kolonialisme, politik global abad ke-20

David Van Reybrouck


Sebuah penulisan ulang yang menakjubkan, berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, adalah buah karya David van Reybrouck, seorang penulis dari Belgia yang reputasinya juga terbangun dari tulisan-tulisannya mengenai Kongo. Buku yang memiliki lebih dari tujuh ratus halaman ini mengupas tuntas pergulatan Indonesia dalam upaya mencapai kebebasan pasca-Perang Dunia Kedua, sebuah momen yang terbukti menjadi katalis utama bagi gerakan pembebasan koloni di skala internasional.

Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern ini menawarkan lebih dari sekadar rekaman peristiwa historis seputar Indonesia. Ia merupakan upaya serius untuk menempatkan Revolusi Indonesia dalam konteks kejadian dunia, alih-alih menjadikannya kisah lokal yang sering terpinggirkan dalam pandangan dunia Barat.

Setelah melakukan riset mendalam selama periode waktu yang panjang dan melakukan ratusan kali sesi wawancara, Van Reybrouck mampu merangkai sebuah kisah yang terasa sangat hidup, intim, dan mengagetkan—menunjukkan bagaimana kontribusi Indonesia berperan penting dalam membentuk lanskap dunia kontemporer.

Ringkasan Isi Buku Revolusi

Jilid ini mengajak audiens menelusuri masa awal abad ke-20, era saat Nusantara masih berada di bawah dominasi penjajahan. Akan tetapi, alih-alih langsung memperkenalkan figur-figur legendaris, Van Reybrouck memilih memulai dari kisah-kisah sederhana: kisah para prajurit, staf medis, pejuang, masyarakat umum, bahkan para saksi mata yang nyaris hilang dari catatan sejarah.

Buku ini memaparkan bagaimana Indonesia mampu menjadi negara perdana yang menyatakan kedaulatan hanya berselang dua hari pasca-Jepang menyerah di tahun 1945, meskipun proses pengakuan resmi baru terwujud setelah pergulatan keras selama empat setengah tahun hingga tahun 1949. Van Reybrouck mengadopsi gaya jurnalistik, mengawinkan data historis, testimoni pribadi, serta latar belakang isu global, termasuk pengaruh dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 yang kemudian menginspirasi tokoh-tokoh seperti Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela.

Alur ceritanya bermula dari penghujung masa kekuasaan Belanda, menyoroti ketidakadilan sosial seperti tragedi kapal Van der Wijck, hingga gelombang revolusi yang memberikan dampak besar bagi gerakan anti-penjajahan di wilayah Asia dan Afrika.

Tulisan David Van Reybrouck yang berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern merupakan sebuah prestasi signifikan dalam historiografi naratif, mengubah narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dari sekadar konflik lokal menjadi momen krusial yang membentuk peta politik global abad kedua puluh. Melalui perpaduan cermat antara penelitian arsip konvensional dan pendekatan sejarah lisan yang mendalam, Van Reybrouck merangkai kisah yang tidak hanya mempertanyakan mitos kolonialisme Belanda tetapi juga memberikan suara kepada individu-individu anonim yang berperan dalam menentukan arah sejarah. Buku ini, pertama kali terbit dalam bahasa Belanda tahun 2020 dan disusul edisi bahasa Inggris dan Indonesia pada 2024 serta 2025, kini diakui secara internasional sebagai salah satu karya paling fundamental mengenai proses dekolonisasi pasca-Perang Dunia Kedua.

David Van Reybrouck


Latar belakang David Van Rey Brouck menulis buku Revolusi

Sejarawan dan penulis asal Belgia, David van Reybrouck, mengarang sebuah buku berjudul Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, yang kemunculannya dipengaruhi oleh riwayat pribadinya terkait era kolonial Belgia-Belanda dan kesuksesan buku sebelumnya, Congo: The Epic History of a People (2010), yang meraih 20 penghargaan.

Inisiasi Awal

Usai perilisan Congo, van Reybrouck kerap didatangi oleh audiens dalam berbagai seminar di Belgia dan Belanda. Mereka mendorongnya untuk menelusuri dan menyusun sejarah kolonial Belanda di Nusantara, topik yang minim dikupas oleh penulis dari kawasan Barat. Walaupun awalnya ia mengarahkan mereka ke penulis Belanda lain, desakan ini terus berlanjut hingga ia merasa terdorong kuat untuk mendalami subjek ini, ditambah lagi dengan ikatan pribadinya yang kuat dengan Belanda—tempat ia meraih gelar PhD di Universitas Leiden dan pernah bermukim lama.

Periode Penelitian Intensif

Van Reybrouck mencurahkan waktu antara 6 sampai 7,5 tahun untuk melakukan penelitian yang mencakup berbagai benua, mewawancarai lebih dari 200 informan dari Indonesia (termasuk dari Minahasa, Jakarta, Mandar), Belanda, Jepang, hingga Nepal. Penulisan buku ini dimulai dari pertemuannya pada tahun 2006 dengan Jeanne, penerjemahnya di Indonesia, saat terjadinya bom Bali—peristiwa yang mendorongnya melihat narasi sejarah Indonesia sebagai "sejarah global" dalam bingkai dekolonisasi dunia, bukan hanya sekadar kisah domestik.

Latar Belakang Profesional

Kesuksesan Congo memberinya keleluasaan finansial untuk membiayai proyek ini tanpa hambatan dana, sementara pengalamannya menulis Against Elections dan karya drama seperti Mission memperkaya alur cerita yang berpusat pada sisi kemanusiaan. Buku tersebut laris manis di Belanda semenjak tahun 2020, sebuah bukti atas komitmennya menyuarakan tokoh-tokoh yang terpinggirkan dalam narasi sejarah pascakolonial.


Landasan Metodologis: Rekonstruksi Memori dan Sejarah Lisan

David van Reybrouck mengadopsi pendekatan riset yang bersifat "duniawi" yang mengombinasikan kesaksian lisan dengan data arsip, sekaligus menghindari ketergantungan berlebihan pada dokumen kolonial yang cenderung menampilkan sudut pandang kaum terpandang.

Poin kuat utama karya ini terletak pada pemanfaatan sejarah lisan oleh Van Reybrouck. Penulis menghabiskan waktu lebih dari lima tahun menjelajahi beragam benua demi menemukan para penyintas terakhir dari era revolusi tersebut. Telaah ini tidak hanya bertumpu pada sesi wawancara resmi dalam lingkup akademik, namun juga merangkum upaya kreatif unik, contohnya menggunakan aplikasi Tinder di Jepang untuk menjalin kontak dengan keturunan veteran Jepang demi menggali cerita dari leluhur mereka. Riset ini berfokus pada pengumpulan keterangan dari sekitar 200 orang yang menyaksikan langsung kejadian dari berbagai penjuru dunia: Indonesia (panti jompo, dusun terpencil, pulau-pulau kecil seperti Mandar), Belanda, Jepang, hingga Nepal bagi para prajurit Gurkha. Proses pengumpulan data ini membentang selama 6 hingga 7 tahun di berbagai kawasan benua, dengan gaya penyampaian jurnalistik yang memadukan fakta, pengalaman pribadi, serta kerangka geopolitik berskala internasional.

David van Reybrouck berbincang dengan kurang lebih dua ratus orang yang menyaksikan kejadian di beragam penjuru Nusantara, khususnya di panti werdha, kampung, dan kepulauan yang jauh guna mencatat kisah warga biasa.

Lokasi Spesifik

  • Minahasa (Sulawesi Utara): Ia mewawancarai para penyaksi seputar pergulatan meraih kebebasan.
  • Jakarta: Termasuk sesi temu di Kolese Kanisius dan wilayah perkotaan guna menangkap beragam perspektif.
  • Mandar, Sulawesi Barat: Di Kabupaten Polewali Mandar dan Majene; ia tinggal di Nusa Pustaka, Pambusuang, sembari bersua pegiat literasi serta mahasiswa dari Unsulbar.
  • Kampung terpencil serta gugusan pulau yang jarang didatangi: Secara umum maksudnya adalah para pejuang veteran dan mereka yang terdampak namun tanpa arsip resmi.

Pemilihan lokasi ini bertujuan untuk menggali narasi lisan yang murni, sekaligus melengkapi riset komparatif antarnegara seperti yang ia lakukan di Nepal dan Jepang.

Penulis mengamati bahwa ingatan dari para centenarianorang yang usianya melampaui seratus tahun—kerap menyajikan sudut pandang yang lebih jernih, karena ingatan mereka belum begitu terpengaruh oleh norma sosial kontemporer atau konstruksi narasi sejarah resmi yang lazim diajarkan di bangku sekolah. Dengan menyimak kisah-kisah yang jarang terdengar—mulai dari pelaut Jerman yang tersesat, para wanita korban eksploitasi seksual, hingga Raden Mas Djajeng Pratomo, satu-satunya orang Indonesia yang tercatat pernah menjadi tahanan di kamp konsentrasi Dachau—Van Reybrouck berhasil merangkai sebuah mozaik yang melukiskan pengalaman kemanusiaan yang berlapis dan seringkali kontradiktif.

Pemilihan beragam narasumber ini memberikan peluang bagi buku tersebut untuk mengupas variasi pengalaman selama masa revolusi. Di Indonesia, pandangan mengenai kemerdekaan sungguh beragam; terdapat spektrum faksi politik yang saling bersaing, meliputi kubu Islam, komunis, sosialis, hingga nasionalis sekuler yang dipimpin oleh Sukarno dan Hatta. Van Reybrouck secara terbuka memaparkan pergulatan internal ini, termasuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh elemen Pemuda (generasi muda yang radikal) yang seringkali sulit dikendalikan oleh para pemimpin utama bangsa.

Latar belakangnya sebagai arkeolog mendorongnya untuk mencari suara dari kalangan rakyat jelata yang buta huruf dan luput dari catatan arsip, karenanya ia memanfaatkan jejaring sosial seperti Tinder untuk menemukan saksi-saksi lanjut usia sebelum waktu mereka habis. Pendekatan ini menjadikan bukunya sebagai "tenunan" dari kisah revolusi, meliputi perspektif dari Belanda, Indonesia, Jepang, dan wilayah lainnya.

Metode riset ini menghasilkan jalinan cerita yang kompleks, menyoroti aneka ragam ideologi (nasionalisme, Islam, Marxisme) beserta dampak global seperti pertemuan di Konferensi Asia-Afrika, yang membuat kisah Revolusi ini berbeda dari historiografi yang umumnya dikenal.

Perbandingan buku Revolusi dengan sejarah kemerdekaan Indonesia standar

David van Reybrouck, melalui karyanya berjudul Revolusi, menyajikan perspektif yang komprehensif dan rangkuman kisah dari beragam sisi, suatu hal yang berbeda dari alur cerita lazim mengenai perjalanan bangsa Indonesia menuju kedaulatan yang cenderung berfokus pada sentimen kebangsaan serta lebih banyak mengangkat figur-figur kalangan atas seperti Soekarno-Hatta dan pejuang militer.

Perbandingan Utama

AspekSejarah Standar Indonesia Buku Revolusi van Reybrouck 
Fokus NarasiNasionalis, heroik, perjuangan rakyat vs Belanda-JepangGlobal: dekolonisasi dunia, pengaruh Bandung 1955 pada MLK/Mandela; "sejarah dunia" bukan nasional
Sumber UtamaArsip resmi, dokumen elit, propaganda kemerdekaanOral history: 200+ wawancara saksi biasa (pribumi, Belanda, Jepang, Gurkha Nepal)
PerspektifIndo-sentris, anti-kolonial; mitos 350 tahun penjajahan penuhMulti-sisi, netral; kolonialisme bertahap (5 tahap hingga 1914), kompleksitas ideologi (Islam, Marxis)
Gaya PenulisanAkademis, kronologis, nasional-heroikJurnalistik-sastrawi, hidup seperti novel; bongkar mitos Barat-sentris
Cakupan1945-1949, internal RI1945-1949 + konteks pasca-kolonial global, pasang surut kekuasaan


Karya tulis ini menguraikan konsep dasar, misalnya frasa "350 tahun jajahan Belanda" sebagai sebuah rangkaian perkembangan yang perlahan, sekaligus menyoroti peranan revolusi Indonesia sebagai pemicu gerakan penentangan terhadap kolonialisme di kawasan Asia dan Afrika.


Mitos Tiga Setengah Abad Penjajahan


Pandangan umum tentang "tiga setengah abad pendudukan Belanda" ditentang oleh Van Reybrouck karena dianggap terlalu menyederhanakan; kenyataannya, proses tersebut terjadi secara bertahap melalui lima fase hingga tahun 1914, dengan Belanda awalnya hanya mengendalikan sebagian kecil dari kerajaan setempat, bukan seluruh wilayah.

Kisah yang Terlalu Simplistik (Hitam-Putih)

Kritik utama diarahkan pada konsep "Indonesia melawan Belanda" yang sangat heroik dan didominasi narasi nasionalis; realitas revolusi jauh lebih kompleks, melibatkan spektrum ideologi yang berbeda (seperti Islam dan Marxisme), serta adanya tindakan kekerasan dari berbagai kelompok, ditambah dampak dari Jepang dan dinamika global—bukan semata-mata narasi yang disusun oleh pihak yang akhirnya berkuasa.

Pengabaian Perspektif Dunia dan Pengalaman Rakyat Jelata

Catatan sejarah yang umum gagal menempatkan Republik Indonesia sebagai katalisator gerakan dekolonisasi global (lewat Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menginspirasi tokoh seperti Nasser dan Mandela), serta mengabaikan kesaksian masyarakat biasa melalui sejarah lisan—fokusnya cenderung tertuju pada figur elit seperti Soekarno, sementara suara para saksi di pelosok terabaikan.

Review Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern – Kisah Global di Balik Kemerdekaan Indonesia


Lapisan Sosial Era Kolonial dan Analogi Kapal Uap

Sebuah instrumen penting dalam kajian ini yaitu penggunaan tenggelamnya kapal uap Van der Wijck di tahun 1936 sebagai ilustrasi kecil struktur masyarakat Hindia Belanda saat itu. Kapal tersebut terdiri dari tiga tingkat yang memilah penumpang berdasarkan kasta rasial dan status sosial secara kaku, merefleksikan susunan tingkatan berbau rasis yang diterapkan oleh administrasi kolonial Belanda.


  • Lantai Teratas (Kaum Eropa): Disediakan eksklusif bagi orang-orang kulit putih yang menikmati kemewahan maksimal, dilengkapi dengan kamar pribadi berisi sarana mutakhir serta zona hiburan yang terisolasi.
  • Lantai Tengah (Asia Asing dan Campuran): Ditinggali oleh komunitas Tionghoa, Arab, serta Indo-Eropa yang menduduki level administrasi menengah, meskipun tetap terpisah dari golongan kulit putih tertinggi.
  • Lantai Paling Bawah (Penduduk Lokal): Area di mana mayoritas penduduk asli dipaksa bertahan dalam situasi yang amat menyedihkan, hanya dibekali area tidur kurang dari dua meter persegi bagi diri dan segala milik mereka.

Perbandingan ini dipakai berulang kali dalam narasi untuk memperlihatkan betapa rapuhnya dasar otoritas kolonial yang ditopang oleh pemisahan rasial yang sangat tajam. Van Reybrouck menyoroti bahwa sepanjang tahun 1930-an, hanya sekitar sepersepuluh laki-laki pribumi dan 2,2 persen perempuannya yang melek huruf, suatu statistik yang menandakan kegagalan total dari kebijakan yang oleh Belanda disebut sebagai "Politik Etis".

Efek Pendudukan Jepang dan Kelangkaan Kalori


Alur cerita beralih ke periode krusial pendudukan Jepang (tahun 1942 sampai 1945), yang dicirikan sebagai masa penuh nestapa, mengakhiri kekuasaan Belanda, serta memunculkan jati diri bangsa Indonesia yang berbeda. Jepang awalnya disambut dengan harapan sebagai "kakak tua" yang berjanji membebaskan Asia dari hegemoni Barat, tetapi kenyataannya jauh lebih bengis.

Data kuantitatif dalam literatur ini menggarisbawahi tingginya tingkat derita yang amat menyakitkan selama masa pendudukan tersebut. Van Reybrouck menyoroti adanya "pertarungan ekonomi" yang berlangsung antara Belanda dan Jepang demi menguasai melimpahnya kekayaan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia sebagai pihak yang paling menanggung kerugian.

Pendudukan Jepang memicu apa yang Van Reybrouck sebut sebagai "kematangan yang dipaksakan" bagi upaya meraih kebebasan. Pengerahan massa secara besar-besaran lewat perkumpulan semi-militer memberikan bekal keterampilan kepada jutaan pemuda Indonesia, yang setelah Jepang hengkang, segera memanfaatkan persenjataan untuk melancarkan perlawanan bersenjata menghadapi upaya Belanda untuk kembali berkuasa.

Pengalaman Para Saksi dari Jepang dan Nepal dalam Karya Tulis


Jepang Memberikan Pengakuan

Van Reybrouck mengunjungi metropolis Jepang guna mewawancarai para veteran yang pernah merasakan masa pendudukan (tahun 1942 hingga 1945). Mereka mengungkapkan berbagai hal, mulai dari kekejaman terhadap Romusha, siasat propaganda "Asia untuk Asia," sampai pada rasa terkejut mereka ketika Indonesia mendeklarasikan diri merdeka hanya berselang dua hari dari kekalahan Jepang. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa masuknya Jepang mempercepat keruntuhan Hindia Belanda, meski dampak traumatisnya tetap membekas kuat pada masyarakat setempat.

Kesaksian dari Nepal

Di daerah pegunungan Nepal, peneliti bertemu dengan para eks-prajurit dari Brigade Gurkha (tentara bayaran dari Nepal) yang bertempur membela Sekutu melawan Jepang serta turut serta dalam gejolak pasca-1945. Mereka berbagi pengalaman getir mengenai pertempuran hutan belantara, dilema kesetiaan yang mereka hadapi, serta sikap mereka yang cenderung tak memihak dalam pertarungan antara RI melawan Belanda, menyajikan sudut pandang non-Barat mengenai proses dekolonisasi.

Seluruh keterangan yang terkumpul ini dirangkai menjadi sebuah alur cerita berskala internasional, yang menggambarkan bahwa revolusi Indonesia merupakan salah satu pemicu transformasi dalam peta dunia kontemporer.

Perjuangan Kemerdekaan (1945–1949): Pertumpahan Darah dan Perundingan


Begitu kemerdekaan diproklamasikan pada tanggal tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima, muncul periode penuh gejolak dan pertikaian bersenjata. Belanda, yang baru saja terbebas dari cengkeraman pendudukan Nazi di negerinya sendiri, malah berusaha keras untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial atas nusantara melalui kekuatan senjata. Istilah "Aksi Polisionil" yang dipakai oleh pemerintah Belanda menuai kecaman keras dari Van Reybrouck, karena istilah itu hanya upaya menutupi fakta bahwa mereka sejatinya melancarkan perang agresi terbuka.

Sorotan penting dalam pembahasan ini adalah peran Kapten Raymond Westerling, komandan unit spesial Belanda yang bertanggung jawab atas pembantaian massal di Sulawesi Selatan. Van Reybrouck menguraikan bagaimana Westerling mengeksekusi mati ribuan warga desa tanpa melalui proses hukum, hanya didasari tuduhan sepihak bahwa mereka bersekutu dengan gerilyawan kemerdekaan. Kekejaman ini, berdasarkan temuan Van Reybrouck, diketahui bahkan mendapat lampu hijau dari petinggi militer serta jajaran politik Belanda baik di pusat pemerintahan sementara Batavia maupun di Den Haag.

Akan tetapi, karya ini turut memaparkan kompleksitas pandangan dunia luar. Inggris, yang awalnya mendarat dengan misi melucuti pasukan Jepang, malah terlibat bentrokan hebat dengan para pejuang Indonesia di Surabaya pada bulan November tahun empat puluh lima. Amerika Serikat pun memainkan peran ganda; awalnya mendukung Belanda dengan memberikan dana bantuan Marshall Plan, namun pada akhirnya mendesak agar Belanda segera menyerahkan kedaulatan sebab tindakan represif Belanda justru memperkuat posisi komunisme di wilayah Asia Tenggara.

Konferensi Bandung 1955: Sebuah Fajar Baru di Era Kontemporer


Esensi utama dari ungkapan "Eksistensi Dunia Kontemporer" tersimpan dalam pembahasan mengenai Konfrensi Asia-Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung tahun 1955. Menurut pandangan Van Reybrouck, momen ini merupakan penanda permulaan sesungguhnya dari apa yang kemudian dikenal sebagai "Dunia Ketiga" atau Blok Non-Blok. Pertemuan internasional tersebut merupakan yang perdana di mana kekuatan Barat tidak turut serta, dan di sana, negara-negara yang baru saja memperoleh kedaulatan menegaskan sikap netral mereka, menolak untuk memihak kubu Amerika Serikat maupun Uni Soviet di tengah persaingan Perang Dingin.

Van Reybrouck sangat menyoroti dampak berkelanjutan dari pertemuan ini terhadap upaya penegakan hak asasi manusia di skala dunia. Pidato pembuka yang disampaikan oleh Sukarno dianggap memberikan suntikan semangat moral yang signifikan bagi berbagai upaya pembebasan kolonial di belahan dunia lain, selain menjadi sumber inspirasi bagi figur seperti Martin Luther King Jr. dalam perjuangan hak sipil di Amerika dan Nelson Mandela di Afrika Selatan. Oleh karena itu, Gelora Indonesia bukan hanya sebuah pergulatan domestik semata, melainkan juga sebuah poros yang mengubah paradigma dunia mengenai kesamaan kedudukan antar bangsa.

Kekuatan Buku Revolusi


✔ Ditulis dengan gaya naratif yang mengalir seperti novel
✔ Kaya data, tetapi tetap mudah dipahami
✔ Membongkar mitos kolonial yang lama dianggap “normal”
✔ Memberi sudut pandang global tentang kemerdekaan Indonesia

Buku ini cocok untuk pembaca yang ingin memahami sejarah Indonesia lebih dalam dan lebih luas, bukan sekadar tanggal dan nama tokoh.

Kekurangan yang Perlu Diperhatikan


❗ Tebalnya cukup menantang untuk pembaca kasual
❗ Beberapa bagian terasa padat dan berat secara historis

Namun, kekurangan ini sebanding dengan kedalaman dan kualitas riset yang ditawarkan.

Untuk Siapa Buku Ini?


Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern sangat direkomendasikan untuk:

  • pembaca dewasa & mahasiswa,
  • penikmat buku sejarah dan politik,
  • pembaca yang ingin melihat Indonesia dari perspektif global,
  • siapa pun yang ingin memahami kemerdekaan Indonesia secara lebih utuh dan jujur.

Ini bukan bacaan ringan, tapi bacaan penting.


Kesimpulan Ulasan


Tulisan sejarah ini benar-benar membangkitkan kesadaran. Kita diingatkan bahwa lepasnya Indonesia dari penjajahan bukanlah sekadar kisah domestik, melainkan bagian dari pergeseran mendasar dalam panggung dunia.

David Van Reybrouck sungguh mampu merangkai narasi sejarah dengan penuh rasa, nyali, dan ketepatan—karya ini layak diakui sebagai salah satu dokumen historis paling penting tentang Indonesia.

Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern melampaui batasan buku sejarah; ia juga menyajikan argumen tajam tentang politik sekaligus kemanusiaan. Van Reybrouck berhasil menempatkan narasi Indonesia dari status "bangsa yang tersembunyi" menjadi titik fokus dalam pemahaman kita tentang zaman modern. Dengan gaya penceritaan yang indah namun didukung bukti riset yang meyakinkan, ia memperlihatkan bagaimana kegigihan sekelompok kecil orang yang mengibarkan kain yang dijahit tangan pada Agustus 1945 secara permanen mengarahkan ulang lintasan sejarah manusia.

Buku ini menekankan bahwa kedaulatan itu direbut, bukan diberi—ia lahir dari pergulatan yang diwarnai nestapa, pertentangan, dan pengorbanan tak terhingga. Bagi audiens Belanda, ini adalah seruan untuk berani menatap sejarah kelam mereka; bagi pembaca Indonesia, ini adalah validasi peran penting bangsa mereka dalam pembentukan wajah dunia; dan bagi komunitas global, ini menjadi pengingat bahwa proses dekolonisasi merupakan kejadian sentral abad kedua puluh. Mencapai total 742 halaman dalam versi terjemahan Indonesia, edisi ini berdiri sebagai tugu peringatan keilmuan yang menjembatani ingatan mereka yang selamat dengan harapan masa depan yang menjadi tanggung jawab kita semua.





 
Judul Rating Cerita & Ilustrasi Tebal Berat Format Tanggal Terbit Dimensi ISBN Penerbit
JudulRevolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern Rating5.0 Cerita & IlustrasiDavid Van Reybrouck Tebal742 halamn Berat1,050 Kg FormatSoft Cover Tanggal Terbit3 Oktober 2025 Dimensi23 cm x 15 cm ISBN9786020685311 PenerbitGramedia Pustaka Utama


*Review ini dibuat berdassarkan referensi berbagai sumber.



Jika kamu ingin memahami Indonesia bukan hanya sebagai “bekas koloni”, tetapi sebagai penggerak sejarah dunia, buku ini wajib ada di rak bacaanmu.

👉 Temukan dan beli buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern sekarang

🠋Miliki Bukunya Sekarang

Dapatkan buku ini di Shopee, Tokopedia maupun di Gramedia.com


 
Tokopedia

Shopee
Gramedia

Pesan dari

KATALOG BUKU

Buku pilhan lainnya:

Buku Terapi Emosi & Berdamai dengan Luka Batin - Anak Hebat Indonesia
Buku seri Self-Healing favorit.


Bingung ingin baca review buku apalagi? Silakan cari disini.

Kamu juga bisa temukan buku lain nya di Katalog Kami 



Katalog Buku.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Review Buku Lain nya:

marquee image
- Books of The Month -
marquee image
- Berbagai ulasan buku dan novel yang bisa jadi referensi bu a t kamu sebelum membeli nya -
·.★·.·´¯`·.·★ 🅁🄴🄺🄾🄼🄴🄽🄳🄰🅂🄸 🄺🄰🄼🄸★·.·´¯`·.·★.·
Buku Reset Indonesia - Indonesia Tera
Buku Tentang Indonesia Dilihat Dari Sudut Pandang Berbeda

Ebook - Tokopedia

Social Follow

Belajar Part of Speech Bahasa Inggris